Profile

Foto saya

I Ketut Sudarsana lahir di Desa Ulakan Kecamatan Manggis Kabupaten Karangasem Provinsi Bali pada tanggal 4 September 1982. Ia adalah anak bungsu dari tiga bersaudara yang lahir dari pasangan I Ketut Derani (Alm.) dan Ni Ketut Merta. Menikah dengan Adi Purnama Sari, S.Pd.H. dan dikaruniai tiga orang anak; Saraswati Cetta Sudarsana (4 tahun), Kamaya Narendra Sudarsana dan Ganaya Rajendra Sudarsana (3 tahun).
Jenjang pendidikan formal yang dilalui adalah SDN 4 Ulakan lulus pada tahun 1994, SMPN 1 Manggis lulus tahun 1997, dan SMKN 1 Sukawati lulus tahun 2000. Pada tahun 2004 menyelesaikan pendidikan sarjana (S1) Pendidikan Agama Hindu di STAHN Denpasar, dan program Magister (S2) Pendidikan Agama Hindu di IHDN Denpasar lulus tahun 2009. Tahun 2011 berkesempatan melanjutkan pendidikan Doktor (S3) Pendidikan Luar Sekolah di Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia Bandung.
Pengalaman kerja dimulai pada tanggal 1 Januari 2005 sampai sekarang sebagai dosen tetap Fakultas Dharma Acarya IHDN Denpasar. Pendidikan dan pelatihan yang pernah diikuti antara lain : Peningkatan Mutu Pendidikan Calon Dosen dan Pegawai tahun 2006, Prajabatan Golongan III tahun 2006, Penulisan Karya Ilmiah Dosen tahun 2006, Diklat. tenaga dosen tahun 2006, Diklat. Metodelogi Penelitian Bagi Tenaga Dosen tahun 2007, Orientasi Penulisan Jurnal Ilmiah Terakreditasi Pada Perguruan Tinggi Hindu tahun 2010.
Saat ini beralamat di Jalan Antasura Gg. Krisna No. 5x Peguyangan Kangin, Kecamatan Denpasar Utara, Kota Denpasar, Provinsi Bali, dengan email ulakan82@gmail.com


Senin, 08 Mei 2017

TREND TEKNOLOGI DAN MEDIA DALAM PEMBELAJARAN


TREND TEKNOLOGI DAN MEDIA DALAM PEMBELAJARAN
Mata Kuliah : Kajian Teknologi Pendidikan
Dosen : Dr. I Ketut Sudarsana, S.Ag.,M.Pd.H
Oleh  :
Sang Ayu Asri Laksmi Dewi,S.Sos.H            (06)   (NIM : 15.1.2.5.2.0805)
I Made Dedy Paramartha,S.Pd.H                   (07)   (NIM : 15.1.2.5.2.0806)
I Putu Krishna Balarama Dasa,S.Pd.H           (08)   (NIM :15.1.2.5.2.0807)
Ni Luh Purnamasuari Prapnuwanti,S.Ag        (09)   (NIM : 15.1.2.5.2.0808)
I Ketut Suyasa,S.Ag                                       (10)   (NIM : 15.1.2.5.2.0809)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
            Pendidikan sangatlah penting untuk setiap bidang kehidupan manusia. Pada era globalisasi seperti sekarang ini menuntut manusia untuk melek teknologi. Dengan sifat teknologi yang bersifat praktis, maka dapat diterapkan dalam pembelajaran agar lebih mudah dalam penyampaian informasi. Pentingnya pendidikan bagi generasi penerus sangatlah perlu diperhatikan. Dengan meningkatnya Teknologi di era modernisasi ini memungkinkan anak-anak memperoleh fasilitas yang serba canggih. Siswa di era sekarang cenderung menyukai ke hal yang sedang menjadi tren di masanya yang modern misalnya seperti penggunaan televisi, HP, tablet, camera, PSP dan berbagai macam teknologi canggih yang dapat menyebarkan informasi dengan sangat mudah dan bebas. Teknologi berkembang dengan sangat cepat dan telah mengubah bentuk kehidupan masyarkat-masyarakat bangsa di dunia termasuk bangsa Indonesia. Berbagai kenyataan modernitas faktanya mudah ditemui bahkan setiap hari disediakan baik oleh keluarga, masyarakat dan juga dunia informasi.  Hal ini berbanding terbalik dengan proses pembelajaran di Indonesia yang sebagian besar masih menggunakan media tradisional yang bisa dibilang menjenuhkan. Hal ini dapat berpengaruh terhadap minat belajar siswa karena kalah dengan zaman modern mereka seperti sekarang ini.
Minat belajar siswa belum menyeluruh dapat dikarenakan pada tingkat kualitas pembelajaran, kebiasaan, system pembelajaran, maupun karakteristik pengajar dalam mengajar. Teknik pembelajaran yang tidak efektif dan menjenuhkan masih diterapkan di Indonesia sampai saat ini. Seperti model pembelajaran satu arah, dan guru yang berdiri di depan kelas tidak mampu menyampaikan materi dan membawa suasana kelas menjadi menarik. Masalah yang ada semenjak dulu hingga sekarang adalah peningkatan mutu pembelajaran yang diajarkan oleh guru, guru kembali melaksanakan pengajaran ceramah dalam pengajaran sehari-harinya di sekolah. Siswa bosan akan pembelajaran yang monoton dan tidak berseni, sehingga minat belajar dan kinerja otak kanan maupun otak kiri tidak meningkat.
Tidak dapat dipungkiri bahwa peningkatan mutu pembelajaran di Indonesia masih berada pada tahap awal, yaitu tahap mengubah kebiasaan guru mengajar dari ceramah ke pembelajaran aktif, dalam arti siswa ikut hidup dalam kelas lalu berani bertanya,menjawab, berpendapat dan sebagainya. Kemudian berseni,dalam konteks ini guru dituntut untuk bekerja ekstra yang dimulai dari penyiapan alat peraga, strategi penyampaian materi dan teknik evaluasi yang menarik dan praktis. Ataupun ‘sersan’ alias serius tetapi santai, artinya siswa tidak terbebani atas apa yang dipelajarinya namun dapat mempelajari dengan matang materi yang sedang diampu karena siswa sudah menyenangi pelajaran tersebut.
Teknologi dapat digunakan sebagai sarana pengembangan pendidikan. Di era sekarang sudah banyak tersedia media teknologi seperti televisi, teknologi informasi dan multimedia sebagai media pendidikan. Apabila sarana prasarana memadai dan tenaga didik mampu memberikan materi melalui sarana teknologi modern dengan baik maka akan mempermudah proses pembelajaran. Dengan media teknologi yang bersifat bebas, siswa mampu berkembang sendiri tanpa bergantung pada pengajar. Pendidikan dapat memanfaatkan seoptimal mungkin fungsi-fungsi positif dari teknologi. Maka dari itu pemanfaatan teknologi sangat diperlukan sebagai media pembelajaran dalam pendidikan. Dengan menumbuhkan minat belajar siswa dengan media teknologi yang menarik dan berseni dapat meningkatkan kualitas mutu pendidikan di Indonesia agar terciptanya generasi yang unggul.

1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Trend Teknologi dalam Pembelajaran?
2. Bagaimana Tren Teknologi dan Media dalam Pembelajaran?
3. Bagaimana Peran Teknologi dan Media dalam Pembelajaran?

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Teknologi dan Media dalam Pembelajaran
2.1.1 Pengertian Teknologi dalam Pembelajaran
Kata teknologi selalu memiliki berbagai konotasi, mulai dari perangkat keras hanya untuk cara pemecahan masalah, sampai definisi oleh Ekonom John Kenneth Galbraith: “Aplikasi sistematis pengetahuan terorganisasi ilmiah atau lainnya untuk tugas-tugas praktis” (Galbraith, 1967, hal 12).
Definisi teknologi pembelajaran oleh asosiasi profesional terkemuka di bidang itu : “teori dan praktek desain, pengembangan, pemanfaatan, manajemen dan evaluasi proses dan sumber daya untuk belajar” (Seels & Richey, 1994, hal 9). Produk seperti komputer, CD player, dan pesawat ulang alik adalah jenis teknologi, yang disebut sebagai teknologi pembelajaran bila digunakan untuk tujuan pembelajaran. Teknologi mengacu pada proses meningkatkan pembelajaran, disebut sistem pembelajaran. Suatu sistem pembelajaran terdiri dari satu set komponen saling terkait yang bekerja sama, efisien dan terpercaya, dalam kerangka khusus kegiatan belajar yang diperlukan mencapai tujuan pembelajaran.
Contohnya pembelajaran kooperatif, simulasi, dan instruksi yang diprogram, Model ASSURE yang dikembangkan sebagai alat bantu perencanaan bukan hanya sebagai pengganti, melayani perubahan dalam lingkungan pembelajaran secara keseluruhan. Penggunaan media yang efektif, memikirkan tujuan, mengubah rutinitas sehari-hari kelas, dan mengevaluasi secara luas untuk menentukan dampak dari instruksi pada kemampuan mental, perasaan, nilai-nilai, keterampilan interpersonal, dan keterampilan motorik.
Teknologi dalam kamus bahasa Indonesia adalah keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang yang diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia. Dengan kemajuan zaman modern,manusia semakin dimanjakan dengan teknologi yang membantu segala kinerja manusia menjadi lebih mudah dan praktis. Teknologi adalah pengembangan dan aplikasi dari alat, mesin, material, dan proses menolong manusia menyelesaikan masalahnya (lihat id.wikipedia.org. 2013).
Pembelajaran merupakan proses utama dalam pendidikan di sekolah. Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar (lihat id.wikipedia.org. 2013). Keberhasilan pendidikan bergantung pada sistematika pembelajaran yang berlangsung dengan pemahaman guru sebagai acuan.
Teknologi pembelajaran menurut struktur definisi hasil revisi tahun 1994 adalah teori dan praktek dalam desain, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan  dan penilaian proses dan sumber untuk belajar. Teori terdiri dari konsep,bangunan (konstruk), prinsip, dan proporsi yang member sumbangan terhadap khasanah pengetahuan. Sedangkan praktek merupakan penerapan pengetahuan tersebut dalam memecahkan permasalahan. Fungsi dari kawasan desain merupakan sumbangan teoritik terbesar dari teknologi pembelajaran untuk bidang yang lebih luas.
Demikian pula kawasan pengembangan telah menjadi matang dan memberikan sumbangan terbesar untuk praktek. Sebaliknya, kawasan pemanfaatan secara teoritis maupun praktis masih belum berkembang dengan baik. Sedangkan kawasan pengelolaan selalu ada dalam bidang karena sumber untuk menunjang berlangsungnya tiap fungsi harus diorganisasikan dan diawasi(dikelola).  Kemudian proses adalah serangkain operasi atau kegiatan yang diarahkan pada suatu hasil tertentu. Dan yang dimaksud dengan sumber ialah asal yang medukung terjadinya belajar, termasuk system pelayanan, bahan pembelajaran dan lingkungan(dalam Seels & Richey,1994: 10-13).

2.1.2 Pengertian Media dalam Pembelajaran
Media adalah sarana komunikasi dan sumber informasi. Contohnya video, televisi, diagram, bahan cetak, program komputer, dan instruktur. Dianggap media pembelajaran ketika memberikan pesan tujuan pembelajaran. Media dan metode yang dipakai pelatihan berbeda dari yang digunakan oleh guru, karena kurikulum sekolah seragam, program pelatihan sering spesifik industri. Ada enam tipe media yang digunakan pada pembelajaran dan instruksi : teks (karakter alfanumerik ditampilkan dalam buku-format, poster, papan tulis, layar komputer), audio ( mencakup dapat didengar seseorang seperti suara, musik, suara mekanik), visual (diagram di poster, gambar pada papan tulis, foto, gambar dalam sebuah buku, kartun), media gerak (media yang menampilkan gerak, termasuk rekaman video, animasi), manifulasi tiga dimensi (dapat disentuh dan ditangani oleh mahasiswa), orang-orang (guru, siswa, atau subjek-materi ahli).
            Berdasarkan uraian di atas dapat dijelaskan bahwa media dalam pembelajaran adalah sarana komunikasi dan sumber informasi yang dipergunakan dalam proses pembelajaran atau proses utama dalam pendidikan di sekolah. Media yang dipergunakan sebagai proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar agar mempermudah siswa dalam menyimak materi yang disajikan oleh penyaji.

2.2 Trend Teknologi dan Media dalam Pembelajaran
Salah satu teknologi yang sedang berkembang saat ini adalah teknologi informasi. Teknologi Informasi adalah suatu sarana modern yang berhubungan dengan pengolahan data apa pun yang membantu manusia dalam menyebarkan informasi. Teknologi Informasi atau yang biasa disebut Information Technology berkembang sangat cepat di era globalisasi sekarang ini. Penggabungan antara teknologi computer dengan telekomunikasi telah menghasilkan suatu perkembangan baru di dalam system informasi. Menurut Dr. Richardus Eko Indrajit (2004) secara garis besar, ada tiga periode atau era perkembangan system informasi, yang dimulai dari pertama kali ditemukannya computer hingga saat ini. Ketiga era tersebut yaitu era komputerisasi, era teknologi informasi, dan era globalisasi informasi.
Saat ini teknologi sudah menjadi media dalam pembelajaran. Proses pembelajaran memang perlu dibantu dengan media agar lebih mudah dalam menyampaikan informasi dari pengajar kepada pelajar. Dengan berkembangnya teknologi di era sekarang siswa bisa menjadi lebih mandiri dan tidak tergantung pada apa yang diajarkan pengajar. Siswa dapat mencari informasi dengan leluasa dengan teknologi. Namun peran seorang guru juga masih sangat diperlukan sebagai pembimbing karakter siswanya agar tidak melenceng dari tujuan pendidikan.
             Pendidikan sebagai dasar penentu kualitas generasi mendatang di berbagai Negara. Perkembangan peserta didik bergantung pada sistem pembelajaran di sekolahnya. Maka dari itu pendidikan haruslah selalu mengikuti perkembangan zaman yang semakin maju. Di zaman yang canggih sekarang ini teknologi berkembang dengan sangat cepat, hampir setiap manusia di dunia pernah merasakan perkembangan teknologi sekarang ini. Di era yang serba praktis tentunya pendidikan juga harus mengikuti perkembangan ini, termasuk perkembangan teknologi harus diterapkan dalam proses pembelajaran. Hail ini ditujukan agar pembelajaran lebih mudah dan proses penyampaian informasi dari pengajar kepada pelajar sampai dengan baik dan dicermati. Maka dari itu media pembelajaran dalam pendidikan diperlukan.

2.1 Fungsi Media Teknologi dalam Pembelajaran
Media Pembelajaran sebagai sarana pembelajaran memiliki arti penting sebagai daya tarik dan sebagai penguat pembelajaran. Dalam proses belajar mengajar, fungsi media menurut Nana Sudjana ( 1991 ) yakni :
(1) Penggunaan media dalam proses mengajar bukan merupakan fungsi tambahan, tetapi mempunyai fungsi sendiri sebagai alat bantu untuk mewujudkan situasi belajar mengajar yang efektif;
(2) Penggunaan media pengajaran merupakan bagian yangintegral dari keseluruhan situasi mengajar. Ini berarti bahwa media pengajaran merupakan salah satu unsur yang harus dikembangkan guru.;
(3) Media dalam pengajaran penggunaannya bersifat integral dengan tujuan dan isi pelajaran.;
(4) Penggunaan media bukan semata - mata sebagai alat huburan yang digunakan hanya sekedar melengkapi proses belajar supaya lebih menarik perhatian siswa;
(5) Penggunaan media dalam proses pembelajaran lebih diutamakan untuk mempercepat proses belajar dan membantu siswa dalam menagkap pengertian yang diberikan guru;
(6) Pengguna media dalam pengajaran diutamakan untuk mempertinggi mutu belajar mengajar.
Pada zaman modernisasi ini media berbasis teknologi dapat membantu dalam proses pembelajaran. Media pembelajaran terdiri dari dua komponen yaitu hardware atau perangkat keras dan Software atau pernagkat lunak. Hardware yaitu komponen yang terlihat bentuk fisiknya,dapat didengar atau diraba dengan panca indera. Sebagai contoh hardware adalah televise, radio, LCD dan sebagainya. Sedangkan software yaitu isi dari pembelajaran yang terdapat pada perangkat keras yang akan disampaikan kepada pelajar,contoh software yaitu media pembelajaran interaktif (MPI), internet, dan lain-lain. Teknologi informasi dan komunikasi juga berperan dalam peningkatan mutu pendidikan, yaitu dengan memanfaatkan media teknologi modern seperti, televise/video, radio, internet dan multimedia pembelajaran interaktif dalam pembelajaran.
Media yang dapat dimanfaatkan untuk mempermudah pembelajaran salah satunya adalah radio. Radio merupakan perlengkapan elektronik yang dapat digunakan untuk mendengarkan berita yang bagus dan actual,bahkan informasi dari radio lebih cepat menyebar dibanding televise karena radio hanya menggunakan sarana audio, sehingga tidak harus mengedit gambar terlebih dahulu. Walaupun radio tidak semenarik televise, namun radio juga memiliki peran dalam pendidikan. Radio dapat digunakan sebagai media pembelajaran yang cukup efektif. Media ini juga mampu merangsang partisipasi aktif bagi si pendengar. Radio juga memiliki peran sebagai media dalam pembelajaran. Pembelajaran efektif dapat tercapai dengan menggunakan media radio. Dengan menggunakan radio yang berbasis audio seorang guru tidak harus mengulang-ulang pembelajarannya, karena dengan radio secara langsung siswa dapat memutar kembali pelajaran yang belum dipahaminya secara berulang-ulang. Proses inilah yang lama-kelamaan akan merangsang tata bahasa anak dan akan merangsang kretifitas serta imajinasi anak.
Media yang dapat dimanfaatkan untuk mempermudah pembelajaran selanjutnya adalah media televise. Televisi sebagai media dalam pembelajaran ditujukan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi proses belajar mengajar, sehingga diharapkan anak-anak mampu mengembangkan kreatifitas dan daya nalarnya. Hasil penelitian menunjukan bahwa proses belajar dan mengajar dengan menggunakan sarana audio visual seperti video/film mampu meningkatkan efisiensi pengajaran 20%-50% (Edy & Asep, 2006: 121-122).
Namun perlu diperhatikan, dengan tayangan televise saat ini yang sangat melenceng dari unsure pendidikan dapat merusak moral pemirsanya terutama anak anak. Maka dari itu, peran orang tua sangat diperlukan terhadap pemanfaatan media televise ini. “Televise bisa menjadi orang tua dalam membantu si anak menemukan bakat-bakatnya. Acara-acara TV pendidikan bisa menjadi bagian dari lingkungan belajar yang dibangun oleh orang tua dirumah”(Chen, 1996:19).
Maka tidak dapat dipungkiri bahwa peran orang tua adalah hal yang utama dalam media pembelajaran ini. Anak-anak yang masih lugu tidak mengetahui acara yang dilihatnya karena pengetahuannya masih sedikit. Orang tua harus tekun memilihkan acara yang cocok untuk masa perkembangan anaknya. Dengan demikian maka hal positif dari media televise sebagai media pembelajaran dapat diperoleh dari mulai anak-anak sampai orang dewasa.
Kemudian salah satu contoh komponen software media adalah multimedia pembelajaran interaktif (MPI). MPI ini sangat cocok digunakan untuk media pembelajaran dan dapat masuk dalam semua jenjang pendidikan. Multimedia Pembelajaran Interaktif (MPI) adalah media pembelajaran dari gabungan unsure-unsur media yang terdiri dari teks, grafis, foto, animasi, video dan suara yang dikemas dalam bentuk interaktif yang menarik dan berseni.
MPI memiliki peran penting dalam pembelajaran.  Sebagai media yang menggabungkan berbagai media dalam satu kemasan yang tentunya dapat mempermudah dalam pembelajaran. Media dibuat berdasarkan tingkat jenjang pendidikan, karena psikologi anak TK tidaklah sama dengan psikologi anak di jenjang SMA.  Peranan multimedia dalam pembelajaran berkaitan erat sebagai alat untuk menyampaikan pesan terhadap siswa, dengan penggabungan banyak unsur media. Pembelajaran menggunakan MPI lebih efektif disbanding pembelajaran yang menggunakan system satu arah. Dengan desain yang dikemas secara kreatif, dapat menarik minat siswa dalam belajar. Pelajar juga dapat mengulang kembali materi yang belum dimengerti secara bebas, tanpa harus merepotkan orang lain.
            Media selanjutnya yang sangat merakyat adalah media internet. Sebagian besar masyarakat mengetahui apa itu internet. Dalam pendidikan, internet sudah menjadi media yang sangat diperlukan untuk pembelajaran. Karena internet merupakan suatu jendela dunia dan sudah dianggap perpustakan dunia yang melalui media online. Perkembangan teknologi dengan media internet dalam pembelajaran memiliki manfaat yang utuh dan menyeluruh, seperti Menjadi jawaban bagi kelemahan-kelemahan proses belajar-mengajar konvensional, meningkatkan kualitas proses belajar mengajar,meningkatkan kadar interaksi pembelajaran, memungkinkan terjadinya interaksi pembelajaran dari mana dan kapan saja, menjangkau peserta didik dalam cakupan yang luas,mempermudah penyempurnaan dan penyimpanan materi pembelajaran, sebagai tempat pencarian materi untuk pembelajaran karena ada beberapa aplikasi internet yang memberi kemudahan dalam proses pembelajaran (lihat www.matematikana.com, 2011). Pemanfaatan internet dalam proses pembelajaran akan membantu dunia pendidikan dalam meningkatkan kuantitas peserta didiknya.
Levie & Lents (1982) mengemukakan empat fungsi media pembelajaran, khususnya media visual, yaitu:
1. Fungsi Atensi
Fungsi atensi media visual merupakan inti, yaitu menarik dan mengarahkan perhatian siswa untuk berkonsentrasi kepada isi pelajaran yang berkaitan dengan makna visual yang ditampilkan atau menyertai teks materi pelajaran. Seringkali pada awal pelajaran siswa tidak tertarik dengan materi pelajaran atau mata pelajaran itu merupakan salah satu pelajaran yang tidak disenangi oleh mereka sehingga mereka tidak memperhatikan. Media gambar khususnya gambar yang diproyeksikan melalui overhead projector dapat menenangkan dan mengarahkan perhatian mereka kepada pelajaran yang akan mereka terima. Dengan demikian, kemungkinan untuk memperoleh dan mengingat isi pelajaran semakin besar.
2. Fungsi Afektif
Media visual dapat terlihat dari tingkat kenikmatan siswa ketika belajar (atau membaca) teks yang bergambar. Gambar atau lambang visual dapat menggugah emosi dan sikap siswa, misalnya informasi yang menyangkut masalah social atau ras.
3. Fungsi Kognitif
Fungsi kognitif media visual terlihat dari temuan-temuan penelitian yang mengungkapkan bahwa lambang visual atau gambar memperlancar pencapaiaan tujuan untuk memahami dan mengingat informasi atau pesan yang terkandung dalam gambar.
4. Fungsi Kompensatoris
Fungsi kompensatoris media pembelajaran terlihat dari hasil penelitian bahwa media visual yang memberikan konteks untuk memahami teks membantu siswa yang lemah dalam membaca untuk mengorganisasikan informasi dalam teks dan mengingatnya kembali. Dengan kata lain, media pembelajaran berfungsi untuk mengakomodasikan siswa yang lemah dan lambat menerima dan memahami isi pelajaran yang disajikan dengan teks atau disajikan secara verbal.
Media pembelajaran, menurut Kemp & Dayton (1985:28), dapat memenuhi tiga fungsi utama apabila media itu digunakan untuk perorangan, kelompok, atau kelompok pendengar yang besar jumlahnya, yaitu :
  1. Memotivasi minat atau tindakan,
  2. Menyajikan informasi,
  3. Memberi instruksi.
Untuk memenuhi fungsi motivasi, media pembelajaran dapat direalisasikan dengan teknik drama atau hiburan. Hasil yang diharapkan adalah melahirkan minat dan merangsang para siswa atau pendengar untuk bertindak (turut memikul tanggung jawab, melayani secara sukarela, atau memberikan subangan material). Pencapaian tujuan ini akan memperngaruhi sikap, nilai, dan emosi.
Untuk tujuan informasi, media pembelajaran dapat digunakan dalam rangka penyajian informasi dihadapan sekelompok siswa. Isi dan bentuk penyajian bersifat amat umum, berfungsi sebagai pengantar, ringkasan laporan, atau pengetahuan latar belakang. Penyajian dapat pula berbentuk hiburan, drama, atau teknik motivasi. Ketika mendengar atau menonton bahan informasi, para siswa bersifat pasif. Partisipasi yang diharapkan dari siswa hanya terbatas pada persetujuan atau ketidaksetujuan mereka secara mental, atau terbatas pada perasaan tidak/kurang senang, netral, atau senang.

Media internet dapat digunakan untuk membantu guru dalam menyampaikan pembelajaran kepada siswanya lebih mudah, hal ini dikarenakan kadang kala guru tidak dapat hadir dalam kelas bertatap muka dengan siswanya. Dan media internet adalah pembantu guru dalam hal ini. Di samping itu media internet yang berwawasan luar dapat membantu membangun proses pembelajaran yang lebih menarik. Dalam pembelajaran tidak terlepas dari penggunaan internet. Hal ini dikarenakan perkembangan teknologi yang pesat di dunia. Guru dan siswa mampu menambah wawasan dalam berbagai hal yang berhubungan dengan pendidikan.
Dalam standar media internet yang dapat digunakan sebagai sarana pendidikan yaitu :
(1) E-mail atau Electronic mail, E-mail dapat disebut sebagai bagian terpenting dari aplikasi internet. E-mail di desain dengan aplikasi yang sederhana namun sangat penting dari segala aplikasi lainnya, bahkan lebih penting dari web, karena sebagian web terutama web yang gratis menggunakan basis e-mail juga.;
(2) Mailing list, ini merupakan fasilitas yang dapat digunakan untuk membuat kelompok diskusi. Dengan menggunakan mailing list, pemilik e-mail dapat bergabung dengan sebuah kelompok diskusi untuk saling bertukar informasi, namun tidak dapat diintervensi oleh  orang yang tidak mengikuti gorupnya.;
(3) News Group, news group adalah fasilitas yang dapat digunakan oleh dua orang atau lebih secara bersamaan, contoh dari news group adalah chat.;
(4) File Transfer Protocol atau yang biasa disebut FTP, melalui FTP seseorang dapat mengunggah file dari computer ke media internet, proses ini disebut proses up-load. Sebaliknya, seseorang juga dapat mengunduh file dari internet ke computer, proses ini disebut dengan down-load.;
(5) Word Wide Web atau yang biasa disingkat www merupakan basis web yang memiliki kumpulan dokumen yang sangat besar yang tersimpan dalam sebuah server yang terhubung dari suatu jaringan. Dikembangkan dalam format Hypertext Markup Language (HTML) (lihat www.velearning.media.blogspot.com. 2012).
 Peran Media dalam pembelajaran khususnya media berbasis teknologi erat kaitannya dengan penyampaian materi dari pemberi informasi kepada penerima informasi. Media digunakan untuk mempermudah proses pembelajaran, agar terkesan tidak memjenuhkan dan dapat menambah wawasan lebih serta kreatifitas kepada pelajar maupun pengajar. Sebagai contoh media pembelajaran adalah televisi, radio, media pembelajaran interaktif,dan internet. Televise yang berbasis audio visual dapat mempermudah pembelajaran dengan film pendidikan dan acara yang mendidik. Radio yang berbasis audio walaupun tidak lebih menarik dari televise, radio tetap memiliki peran dalam pembelajaran dengan siaran pendidikan,dengan media audio itu sendiri,pembelajaran listening jadi lebih mudah diputar kembali secara berulang-ulang dan dapat membantu pembelajaran lebih efektif. Media Pembelajaran Interaktif (MPI) yang merupakan gabungan dari segala unsure-unsur media memiliki daya tarik yang lebih sebagai media dalam pembelajaran. Kemudian media pembelajaran selanjutnya yang sangat mudah dijangkau adalah internet, karena sifatnya yang bebas maka pelaku pendidikan dapat dengan mudah mendapat informasi dari seluruh sudut terkecil pengetahuan. Namun dengan media teknologi yang canggih seperti sekarang ini terdapat pengaruh positif dan negative untuk pembelajaran siswa. Maka peran guru masih sangat diperlukan untuk membimbing siswanya agar dapat berjalan di jalan yang benar. Guru juga harus mampu membimbing setiap siswa dalam penggunaan teknologi sebagai media pembelajaran. Di samping itu guru juga harus mampu menyeleksi tugas-tugas yang berhubungan dengan pemanfaatan teknologi. Selain untuk mempermudah proses pembelajaran, teknologi sebagai media pembelajaran juga mempunyai manfaat baik bagi guru maupun siswa.

Media instruksional yang memadukan pengalaman konkret membantu mahasiswa mengintegrasikan pengalaman sebelumnya dan memfasilitasi pembelajaran konsep abstrak. Menampilkan sebuah video yang mewakili semua proses ini dalam hubungan satu sama lain merupakan cara ideal untuk mengintegrasikan berbagai pengalaman ke dalam abstraksi bermakna. Pada tahun 1946, Edgar Dale mengembangkan “Kerucut Pengalaman” (Dale, 1969).
Dale berpendapat peserta didik bisa memanfaatkan keuntungkan dari kegiatan pembelajaran yang abstrak jika mereka telah membangun pengalaman yang lebih konkrit untuk memberikan makna terhadap representasi yang lebih abstrak. Psikolog Jerome Bruner bekerja dari perspektif yang berbeda dalam mengembangkan teorinya tentang belajar, Bruner mengusulkan instruksi harus melanjutkan dari enactive (pengalaman langsung) untuk representasi pengalaman ikonik (seperti penggunaan gambar dan video) untuk perwakilan simbolik (seperti penggunaan kata-kata). Bruner menunjukkan bahwa ini berlaku untuk semua peserta didik, bukan hanya anak-anak.
Dale (1969:180) menyatakan bahwa bahan-bahan audio-visual dapat memberikan banyak manfaat asalkan guru berperan aktif dalam proses pembelajaran. Hubungan guru-siswa tetap merupakan elemen paling penting dalam system pendidikan modern saat ini. Guru harus selalu hadir untuk menyajikan materi pelajaran dengan bantuan media apa saja agar manfaat berikut ini dapat terealisasi:
  1. Meningkatkan rasa saling pengertian dan simpati dalam kelas;
  2. Membuahkan perubahan signifikan tingkah lalu siswa;
  3. Menunjukkan hubungan antar mata pelajaran dan kebutuhan dan minta siswa dengan meningkatnya motivasi belajar siswa;
  4. Membawa kesegaran dan variasi bagi pengalaman belajar siswa;
  5. Membuat hasil belajar lebih bermakna bagi berbagai kemampuan siswa;
  6. Mendorong pemanfaatan yang bermakna dari mata pelajaran dengan jalan melibatkan imajinasi dan partisipasi aktif yang mengakibatkan meningkatnya hasil belajar;
  7. Memberikan umpan balik yang diperlukan yang dapat membantu siswa menemukan seberapa banyak telah mereka pelajar;
  8. Melengkapi pengalaman yang kaya dengan pengalaman itu konsep-konsep yang berkala dapat kembangkan;
  9. Memperluas wawasan dan pengalaman siswa yang mencerminkan pembelajaran nonverbalistik dan membuat generalisasi yang tepat;
  10. Meyakinkan diri bahwa urutan dan kejelasan pikiran yang siswa butuhkan jika mereka membangun struktur konsep dan system gagasan yang bermakna.
Sudjana dan Rivai (1992;2) mengemukakan manfaat media pembelajaran dalam proses belajar siswa, yaitu:
  1. Pembelajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar;
  2. Bahan pembelajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami oleh siswa dan memungkinkannya menguasai dan mencapai tujuan pembelajaran;
  3. Metode mengajar akan lebih bervariasi, tidak semata-mata komunikasi verbal melalui penuturan kata-kata oleh guru, sehingga siswa tidak bosan dan guru tidak kehabisan tenaga, apalagi kalau guru mengajar pada setiap jam pelajaran;
  4. Siswa dapat lebih banyak melakukan kegiatan belajar sebab tidak hanya mendengarkan uraian guru, tetapi juga aktivitas lain seperti mengamati, melakukan, mendemonstrasikan, memerankan, dan lain-lain.
Encyclopedei of Educational Research dalam Hamalik (1994:15) merincikan manfaat media pendidikan sebagai berikut:
  1. Meletakkan dasar-dasar yang konkret untuk berpikir, oleh karena itu mengurangi verbalisme.
  2. Memperbesar perhatian siswa.
  3. Meletakkan dasar-dasar yang penting untuk perkembangan belajar, oleh karena itu membuat pelajaran lebih mantap.
  4. Memberikan pengalaman nyata yang dapat menumbuhkan kegiatan berusaha sendiri di kalangan siswa.
  5. Menumbuhkan pemikiran yang teratur dan kontinyu, terutama melalui gambar hidup.
  6. Membantu tubuhnya pengertian yang dapat membantu perkembangan kemampuan berbahasa.
  7. Memberikan pengalaman yang tidak mudah diperoleh dengan cara lain, dan membantu efisiensi dan keragaman yang lebih baik
 BAB III
KESIMPULAN

3.1 Simpulan
Pembelajaran merupakan proses utama dalam pendidikan di sekolah. Teknologi pembelajaran menurut struktur definisi hasil revisi tahun 1994 adalah teori dan praktek dalam desain, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan  dan penilaian proses dan sumber untuk belajar. Teori terdiri dari konsep,bangunan (konstruk), prinsip, dan proporsi yang member sumbangan terhadap khasanah pengetahuan. Sedangkan praktek merupakan penerapan pengetahuan tersebut dalam memecahkan permasalahan. Fungsi dari kawasan desain merupakan sumbangan teoritik terbesar dari teknologi pembelajaran untuk bidang yang lebih luas. Demikian pulan kawasan pengembangan telah menjadi matang dan memberikan sumbangan terbesar untuk praktek. Sebaliknya, kawasan pemanfaatan secara teoritis maupun praktis masih belum berkembang dengan baik. Sedangkan kawasan pengelolaan selalu ada dalam bidang karena sumber untuk menunjang berlangsungnya tiap fungsi harus diorganisasikan dan diawasi(dikelola).  Kemudian proses adalah serangkain operasi atau kegiatan yang diarahkan pada suatu hasil tertentu. Dan yang dimaksud dengan sumber ialah asal yang medukung terjadinya belajar, termasuk system pelayanan, bahan pembelajaran dan lingkungan.
Pemanfaatan teknologi sebagai media pembelajaran merupakan hal yang penting. Teknologi  dalam pembelajaran sangat penting karena ada  pemanfaatan beberapa media teknologi yang memberi kemudahan dalam proses pembelajaran.  Di samping itu adanya teknologi sebagai media pembelajaran dapat membantu membangun proses pembelajaran yang lebih menarik. Media pembelajaran terdiri dari dua komponen yaitu hardware(perangkat keras),contoh hardware adalah  televise,radio,LCD,computer dan lain sebagainya yang dimana bentuk fisiknya terlihat oleh panca indera.Dan Software(perangkat lunak) software yaitu isi dari pembelajaran yang terdapat pada perangkat keras yang akan disampaikan kepada pelajar,sebagai contoh software adalah internet dan media pembelajaran interaktif.
            Teknologi dengan sifatnya yang praktis mampu mengangkat proses pembelajaran lebih mudah. Dengan penggunaan media teknologi seperti Televise yang berbasis audio visual dapat mempermudah pembelajaran dengan film pendidikan dan acara yang mendidik. Radio yang berbasis audio walaupun tidak lebih menarik dari televise, radio tetap memiliki peran dalam pembelajaran dengan siaran pendidikan,dengan media audio itu sendiri,pembelajaran listening jadi lebih mudah diputar kembali secara berulang-ulang dan dapat membantu pembelajaran lebih efektif. Media Pembelajaran Interaktif(MPI) yang merupakan gabungan dari segala unsure-unsur media memiliki daya tarik yang lebih sebagai media dalam pembelajaran. Kemudian media pembelajaran selanjutnya yang sangat mudah dijangkau adalah internet, karena sifatnya yang bebas maka pelaku pendidikan dapat dengan mudah mendapat informasi dari seluruh sudut terkecil pengetahuan. Namun dengan majunya teknologi seperti sekarang ini peran orang tua dan guru sangat diperlukan untuk menujang pendidikan karakter pelajar. Peran pengajar untuk memilah mana yang terbaik untuk anak didiknya agar tidak melenceng dari unsure positif teknologi untuk proses pembelajaran.

 DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2009. “ Menggagas Radio Sebagai Media Pendukung Dalam Proses Pembelajaran”.
Anonim. 2011. “Manfaat Internet Bagi Proses Belajar-Mengajar”. Diunduh pada hari Jumat, 1 April 2016 pukul 15.20 Wita melalui: http://www.matematikana.com/artikel/8/manfaat-internet-bagi-proses-belajar-mengajar.html.
Chen, M. 1996. Mendampingi Anak Menonton Televisi Panduan bagi Orang Tua. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Darwanto. 2005. Televisi Sebagai Media Pendidikan. Yogyakarta: PustakaPelajar.
Mayer Richard E. 2009. Multimedia Learning. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Terjemahan dari: Baroto Tavip Indrojarwo.
Rosyid Yusuf. 2012. “Peranan Media Audio Visual Dalam Pembelajaran”. Diunduh pada hari Jumat, 1 April 2016 pukul 14.13 Wita melalui: http://velearning.media.blogspot.comhtml.
Seels Barbara B. dan Richey Rita C. 1994. Teknologi Pembelajaran Definisi dan Kawasannya. Jakarta: Unit Penerbitan Universitas Negeri Jakarta.
Smaldino, Sharon E, dkk. 2007. Instructional Technology And Media For Learning Ninth edition. New Jersey Columbus, Ohio: PEARSON Merrill Prentice Hall.
Smaldino, Sharon. Lowter, Deborah. Russel, James D. 2011. Teknologi    Pembelajaran & Media untuk Belajar. Jakarta: Kencana Prenada Media G.
Sudjana Nana. 1991. Media Pengajaran. Bandung: Sinar Baru.
Sudarsana, I. K. (2014). PENGEMBANGAN MODEL PELATIHAN UPAKARA BERBASIS NILAI PENDIDIKAN AGAMA HINDU UNTUK MENINGKATKAN PERILAKU KEWIRAUSAHAAN: Studi pada Remaja Putus Sekolah di Kelurahan Peguyangan Kota Denpasar.
Sudarsana, I. K. (2015). PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH DALAM UPAYA PEMBANGUNAN SUMBER DAYA MANUSIA. Jurnal Penjaminan Mutu, (Volume 1 Nomor 1 Pebruari 2015), 1-14.
Sudarsana, I. K. (2016). DEVELOPMENT MODEL OF PASRAMAN KILAT LEARNING TO IMPROVE THE SPIRITUAL VALUES OF HINDU YOUTH. Jurnal Ilmiah Peuradeun, 4(2), 217-230.
Sudarsana, I. K. (2016). PEMIKIRAN TOKOH PENDIDIKAN DALAM BUKU LIFELONG LEARNING: POLICIES, PRACTICES, AND PROGRAMS (Perspektif Peningkatan Mutu Pendidikan di Indonesia). Jurnal Penjaminan Mutu, (2016), 44-53.
Wikipedia. 2013. “Pembelajaran”. Diunduh pada hari Kamis, 31 Maret 2016 pukul 14.15 Wita melalui: http://id.wikipedia.org/wiki/Pembelajaran.
Wikipedia. 2013.Teknologi”. Diunduh pada hari Kamis, 31 Maret 2016 pukul 14.20 Wita melalui: http://id.wikipedia.org/wiki/Teknologi.

0 komentar:

Posting Komentar