Profile

Foto saya

I Ketut Sudarsana lahir di Desa Ulakan Kecamatan Manggis Kabupaten Karangasem Provinsi Bali pada tanggal 4 September 1982. Ia adalah anak bungsu dari tiga bersaudara yang lahir dari pasangan I Ketut Derani (Alm.) dan Ni Ketut Merta. Menikah dengan Adi Purnama Sari, S.Pd.H. dan dikaruniai tiga orang anak; Saraswati Cetta Sudarsana (4 tahun), Kamaya Narendra Sudarsana dan Ganaya Rajendra Sudarsana (3 tahun).
Jenjang pendidikan formal yang dilalui adalah SDN 4 Ulakan lulus pada tahun 1994, SMPN 1 Manggis lulus tahun 1997, dan SMKN 1 Sukawati lulus tahun 2000. Pada tahun 2004 menyelesaikan pendidikan sarjana (S1) Pendidikan Agama Hindu di STAHN Denpasar, dan program Magister (S2) Pendidikan Agama Hindu di IHDN Denpasar lulus tahun 2009. Tahun 2011 berkesempatan melanjutkan pendidikan Doktor (S3) Pendidikan Luar Sekolah di Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia Bandung.
Pengalaman kerja dimulai pada tanggal 1 Januari 2005 sampai sekarang sebagai dosen tetap Fakultas Dharma Acarya IHDN Denpasar. Pendidikan dan pelatihan yang pernah diikuti antara lain : Peningkatan Mutu Pendidikan Calon Dosen dan Pegawai tahun 2006, Prajabatan Golongan III tahun 2006, Penulisan Karya Ilmiah Dosen tahun 2006, Diklat. tenaga dosen tahun 2006, Diklat. Metodelogi Penelitian Bagi Tenaga Dosen tahun 2007, Orientasi Penulisan Jurnal Ilmiah Terakreditasi Pada Perguruan Tinggi Hindu tahun 2010.
Saat ini beralamat di Jalan Antasura Gg. Krisna No. 5x Peguyangan Kangin, Kecamatan Denpasar Utara, Kota Denpasar, Provinsi Bali, dengan email ulakan82@gmail.com


Senin, 08 Mei 2017

PENTINGNYA MEDIA VISUAL DALAM MERANCANG MATERI YANG EFEKTIF

PENTINGNYA MEDIA VISUAL DALAM MERANCANG MATERI YANG EFEKTIF

Dosen Pengampu      : Dr. I Ketut Sudarsana, S.Ag.,M.Pd.H
Mata Kuliah              : Teknologi Pendidikan
                                                                                                         
 Oleh :
Komang Ayu Tri Ratna Dewi, S. Ag                      (15.1.2.5.2.0846)
Ni Nyoman Tri Wahyuni, S.Pd.H                           (15.1.2.5.2.0851)
Kadek Widiastuti, S.Pd.H                                        (15.1.2.5.2.0852)
Ni Nengah Sudarsini, S.Pd.H                                   (15.1.2.5.2.0854)
Ni Kadek Sri Ayuni, S.Ag                                        (15.1.2.5.2.0858)


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Dalam proses pembelajaran, seringkali terjadi hal-hal yan membuat pembelajaran tidak berjalan dengan baik. Mengupayakan pendidikan yang berkualitas, guru seringkali menemukan kesulitan dalam memberikan materi pembelajaran. Kondisi semacam ini akan terus terjadi selama guru masih menganggap bahwa dirinya merupakan sumber belajar bagi siswa dan mengabaikan peran media pembelajaran. Untuk itu perlunya pengembangan inovasi pembelajaran yang harus dilakukan oleh guru. Dengan menggunakan alata bantu atau media pembelajaran akan membantu guru dalam proses pembelajaran.
Penggunaan media pembelajaran bukan sekedar upaya untuk membantu guru dalam mengajar, tetapi lebih dari itu sebagai usaha yang ditujukan untuk memudahkan siswa dalam pelajaran. Akhirnya media pembelajaran memang pantas digunakan oleh guru, bukan hanya sekedar alat bantu mengajar bagi guru, namun diharapkan akan timbul kesadaran baru bahwa media pembelajaran telah menjadi bagian integral dalam sistem pendidikan sehingga dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk membantu lancarnya bidang tugas yang diemban untuk kemajuan dan meningkatkan kualitas peserta didik. Padahal anak sebagai subyek pembelajar  yang memiliki kekuatan psikopisik yang jika memperoleh sentuhan yang tepat akan mendorong murid berkembang dalam kapasitas yang mengagumkan. Untuk itu pendidik harus membangun kemampuan pada dirinya agar dapat mengubah gaya-gaya mengajar yang bersifat tradisional menjadi gaya mengajar modern, sehingga guru mengajar dengan luwes dan gembira. Dengan banyak cara yang tidak kalah pentingnya, dapat menerapkan proses pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran sehingga guru mampu mengefektifitaskan penggunaan media pembelajaran dalam proses pembelajaran.
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya teknologi Informasi, sangat berpengaruh terhadap penyusunan dan implementasi strategi pembelajaran.Melalui kemajuan tersebut para guru dapat menggunakan berbagai media sesuai dengan kebutuhan dan tujuan pembelajaran.
Media pembelajaran meliputi, media visual, media audio, media produksi diam, media proyeksi gerak dan audio visual. Media visual berupa media yang ditampilkan yang dinikmati oleh pengelihatan. Media visual berupa gambar, grafik, sketsa, kartun, foster dan sebagainya. Media visual akan membantu pembelajaran yang efektif dikarenakan media visual mampu mengarahkan siswa untuk berpikir kritis. Selain itu pembelajaran yang dilakukan dengan pengamatan akan lebih tertanam di pikiran anak didik. Untuk itu media visual dirasa sangat penting untuk mendukung proses pembelajaran.

B.       Rumusan Masalah
            Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan, masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah :
1.      Apa pengertian mediaVisual?
2.      Prinsip-prinsipapa sajakah yang perlu diperhatikan dalam media visual?
3.      Bagaimanapanduan perancangan visual untuk materi yang efektif?
4.      Apa kelebihan dan kekurangan media visual?

C.    Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penulisan makalah ini adalah:
1.      Tujuan Umum
            Secara umum makalah ini bertujuan untuk mengenalkan media visual dalam merancang materi yang efektif dalam pembelajaran.
2.      Tujuan Khusus
            Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk :
a.       Untuk mengetahui pengertian Media Visual dalam Merancang Materi yang Efektif.
b.      Untuk mengetahui Prinsip-Prinsip Visual dalam Merancang Materi Yang Efektif.
c.       Untuk mengetahui Panduan perancangan media visual untuk materi yang efektif
d.      Untuk mengetahui kelebihan dan Kelemahan Media Visual dalam Pembelajaran

D.    Manfaat Penelitian
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pembaca atau pihak terkait yaitu sebagai literatur atau referensi sehingga mampu membuka wawasan para pembaca mengenai peran, prinsip serta panduan media visual dalam merancang materi yang efektif dalam pembelajaran

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Media Visual
Kamus Lengkap Bahasa Indonesia (2000:508) dijelaskan bahwa media merupakan sarana atau alat komunikasi bagi masyarakat. Media merupakan sarana yang dipakai untuk berkomunikasi agar mempermudah di dalam mensosialisasikan dan memberi informasi kepada masyarakat. Media merupakan sarana yang dipakai untuk berkomunikasi agar mempermudah di dalam mensosialisasikan dan memberi informasi kepada masyarakat. Informasi dalam arti luas merupakan suatu konsep global yang dapat menunjukkan berbagai jenis pola-pola yang akan dihadapinya (Rusian, 2005:105).
Arsyad (2014:3) kata media berasal dari bahasa Latin medius yang secara harfiah berarti “tengah”, “perantara” atau “pengantar”. Menurut Gerlach & Eli (1971) dalam Arsyad (2014:3) mengatakan bahwa media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia, materi atau kejadian  yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap.  Dalam pengertian ini, guru, buku teks dan lingkungan sekolah merupakan media. Secara lebih khusus, pengertian media dalam proses belajar mengajar cenderung diartikan sebagai alat-alat grafis, photografis atau elektronis untuk mengungkap, memproses dan menyusun kembali informasi visual atau verbal.
Media visual merupakan penyampaian pesan atau informasi secara teknik dan kreatif yang mana menampilkan gambar, grafik serta tata dan letaknya jelas,sehingga penerima pesan dan gagasan dapat diterima sasaran. Media Visual (Daryanto, 1993:27), artinya semua alat peraga yang digunakan dalam proses belajar yang bisa dinikmati lewat panca-indera mata.Media visual (image atau perumpamaan) memegang peran yang sangatpenting dalam proses belajar. Media visual dapat memperlancar pemahaman dan memperkuat ingatan.Visual dapat pula menumbuhkan minat siswa dan dapat memberikan hubungan antara isi materi pelajaran dengan dunia nyata. Agar menjadi efektif, visual sebaiknya ditempatkan pada konteks yang bermakna dansiswa harus berinteraksi dengan visual ( image ) itu untuk meyakinkan terjadinya proses informasi. Dengan demikian media visual dapat diartikan sebagai alat pembelajaran yang hanya bisa dilihat untuk memperlancar pemahaman dan memperkuat ingatan akan isi materi pelajaran.
Arsyad (2014:89) mengatakan bentuk visual bisa berupa: (a) gambar representasi seperti gambar, lukisan atau foto yang menunjukkan bagaimana tampaknya sesuatu benda; (b) diagram yang melukiskan hubungan-hubungan konsep, organisasi, dan struktur isi material; (c) peta yang menunjukkan hubungan-hubungan ruang antara unsur-unsur dalam isi materi; (d) grafik seperti table, grafik, dan chart (bagan) yang menyajikan gambaran/ kecenderungan data atau antar hubungan seperangkat dgambar atau angka-angka.
Media Visual terdiri dari:
1.        Media yang tidak diproyeksikan.
a.       Media realita adalah benda nyata
Benda tersebut tidak harus dihadirkan di ruang kelas, tetapi siswa dapat melihat langsung ke obyek.Kelebihan dari media realita ini adalah dapat memberikan pengalaman nyata kepada siswa.Misal untuk mempelajari keanekaragaman makhluk hidup, klasifikasi makhluk hidup, ekosistem, dan organ tanaman.
b.      Model adalah benda tiruan dalam wujud tiga dimensi yang merupakan representasi atau pengganti dari benda yang sesungguhnya. Penggunaan model untuk mengatasi kendala tertentu sebagai pengganti realia. Misal untuk mempelajari sistem gerak, pencernaan, pernafasan, peredaran darah, sistem ekskresi, dan syaraf pada hewan.
c.       Media grafis tergolong media visual yang menyalurkan pesan melalui simbol-simbol visual. Fungsi dari media grafis adalah menarik perhatian, memperjelas sajian pelajaran, dan mengilustrasikan suatu fakta atau konsep yang mudah terlupakan jika hanya dilakukan melalui penjelasan verbal.
2.      Media proyeksi
a.       Transparansi OHP merupakan alat bantu mengajar tatap muka sejati, sebab tata letak ruang kelas tetap seperti biasa, guru dapat bertatap muka dengan siswa (tanpa harus membelakangi siswa). Perangkat media transparansi meliputi perangkat lunak (Overhead transparancy / OHT) dan perangkat keras (Overhead projector / OHP). Teknik pembuatan media transparansi, yaitu:
·         Mengambil dari bahan cetak dengan teknik tertentu.
·         Membuat sendiri secara manual.
b.      Film bingkai/slide adalah film transparan yang umumnya berukuran 35 mm dan diberi bingkai 2X2 inci. Dalam satu paket berisi beberapa film bingkai yang terpisah satu sama lain. Manfaat film bingkai hampir sama dengan transparansi OHP, hanya kualitas visual yang dihasilkan lebih bagus. Sedangkan kelemahannya adalah biaya produksi dan peralatan lebih mahal serta kurang praktis. Untuk menyajikan dibutuhkan proyektor slide.
B.     Prinsip-prinsip Visual dalam Merancang Materi yang Efektif
1.      Literasi Visual
a)      Pendekatan Visual
Dalam Wikipidia dijelaskan literasi adalah kemampuan untuk memahami, menganalisis, dan mendekonstruksi suatu obyek visual (http://id.m.wikipedia.org/wiki/literasi_media (diakses tanggal 24 Maret 2016) .Literasi visual digunakan untuk merujuk pada kemampuan untuk menafsirkan peran visual secara akurat dan untuk menciptakan pesan semacam itu (Smaldino,2012 :68). Literai visual bisa dikembangkan menjadi dua pendekatan utama, yaitu:
·         Strategi input membantu para peserta didik untuk memahami atau membaca visual secara fasih dengan menerapkan kemampuan analisis visual (misalnya melalui analisis gambar dan diskusi multimedia dan program video).
·         Strategi output membantu para peserta didik untuk menyandikan atau menulis visual untuk menyatakan diri mereka sendiri dan berkomunikasi dengan orang lain (misalnya melalu perencanaan dan produksi presentasi visual).
Visual membajiri para siswa saat ini, sehingga kemampuan mereka untuk membaca, mengerti, menciptakan, menaganalisis dan belajar menjadi lebih penting daripada sebelumnya.Pengembangan literasi visual telah digabungkan dengan program pendidikan seluruh Amerika Serikat dan dibanyak Negara lainnya untyk memperkenalkan para siswa pada konsep dan kemampuan yang berhubungan dengan penafsiran visual dan berkomunikasi secara visual.Dalam program-program tersebut, para guru didorong untuk berpikir secara visual dan memfokuskan perhatian para siswa pada aspek visual dan material cetakan dan materi yang tersedia secara digital, termasuk buku teks, dan buku cerita.Oleh karena itu, program-program ini dirancang untuk anak-anak mulai dari pra sekolah hingga sekolah lanjutan dan mencakup baik itu untuk mengodekan maupun menyapaikan informasi visual di seluruh media. Literasi visual sekarang telah diterima dengan baik sebagai aspek penting dari kurikulum diseluruh tingkatan pendidikan dan paling baik dikembangkan ketika disertakan dalam area-area konten, dengan aktivitas dan penilaian yang terkait dengan standar belajar lokal, Negara bagian dan nasional.
Program semacam itu, disekolah-sekolah publik melibatkan para siswa dalam banyak kegiatan keterampilan dan proyek produksi media dengan tujuan mengembangkan keterampilan berpikir dan melihat secara kritis.Sebagai misal, para siswa membahas materi dengan fokus pada bagaimana elemen-elemen dalam tiap media seperti gambar, perspektif, perancang atau kecepatan bisa memengaruhi dampak dari pesan visual para siswa dalam memilih materi dan pentingnya visual dalam mengembangkan kreativitas dan kemampuan berpikir kritis. Di banyak distrik, para siswa terlibat dalam belajar dan menggunakan teknologi dengan tepat untuk membuat poster kampanye, merancang produk dan iklan baru, membahas kebiasaan mereka menonton televise mereka dalam bentuk film digital. Mereka memproduksi video dan mereka merancang dalam proyek video, fotografi, dan media hadiah lainnya.
b)     Menafsirkan Visual
Melihat sebuah visual tidak otomatis menjamin bahwa seoarng akan belajar darinya. Para peserta didik harus dipandu menuju penguraian makna visual yang tepat, salah satu aspek dari literasi visual adalah kemampuan menafsirkan dan menciptakan makan dari rangsangan.
·         Efek perkembangan. Banyak variable mempengaruhi bagaimana seorang peserta didik menguraikan makna visual. Anak-anak kecil cenderung menafsirkan gambar lebih harfiah ketimbang anak yang lebih tua usianya. Anak yang masih kecil ternyata memiliki kesulitan membedakan antara citra realistik dan objek yang digambarkan citra tersebut (De Loache, 2005).Sebelum mencapai usia 12 tahun anak kecil cenderung menafsirkan visual bagian perbagian ketimbang secara keseluruhan. Namun para siswa yang lebih tua usianya cenderung merangkum pemandangan secara keseluruhan dan menyampaikan kesimpulan tentang makna gambar tersebut.Karena simbol abstrak atau serangkaian gambar diam yang hubungannya tidak begitu gamblang mungkin akan gagal ditangkap maknanya oleh peserta yang lebih muda. Di sisi lain, visual yang sangat realistic mungkin mengalihkan perhatian kecil yang lebih muda usia.
·         Efek budaya. Dalam mengajar, kita harus menyadari bahwa tindakan menguraikan makna visual mungkin dipengaruhi oleh latar belakang budaya peserta. Kelompok-kelompok budaya yang berbeda mungkin memahami bahan-bahan visual dalam cara-cara yang berbeda. Sebagai contoh, katakanlah intruksi anda menyertakan menggambarka pemandangan khas dalam kehiduapn di rumah dan jalanan dari anak-anak perkotaan. Hampir pasti bahwa para siswa yang tinggal di kawasan tersebut akan mengurai makna visual tersebut secara berbeda dibandingkan dengan siswa yang latar belakang budayanya tidak meliputi pengetahuan langsung tentang perkotaan.
·         Preferensi Visual. Dalam memilih visual, para guru harus membuat keputusan yang tepat di antara beragam visual yang lebih disukai dengan visual yang paling efektif. Sebagian besar peserta didik lebih suka pada visual yang berwarna daripada visual yang hitam putih. Tetapi, tidak ada perbedaan signifikan dalam jumlah belajar kecuali ketika warna dikaitkan dengan konten yang akan. Sebagian besar peserta didik juga lebih suka pada fotografi daripada coretan-coretan garis. Meskipun dalam banyak situasi coretan-coretan garis mungkin menyampaikan makna lebih baik. Meskipun banyak peserta didik lebih suka visual sangat realistic daripada representasi abstrak, para guru harus menerapkan keseimbangan di antara keduanya untuk mencapai tujuan pengajarannya. Para pembelajar muda usia lebih suka visual yang sederhana dan siswa yang lebih tua usia lebih menyukai yang lebih kompleks, tetapi visual yang lebih sederhana biasanya lebih efektif, apa pun kelompok usianya.Terlepas dari titik awal mereka yang berbeda-beda dan perbedaan dalam bisa membuat para siswa mengembangkan kemampuan visual mereka dengan cara menggunakan kemampuan tersebut. Mereka bisa berlatih dengan melihat dan mengkritik tampilan visual, seperti iklan majalah, dengan berpikir secara kritis dan membahas acara televisi.
c)      Membuat visual
Aspek lainnya dari literasi visual adalah pembuatan presentasi visual oleh para siswa. Seperti halnya menulis yang dapat memacu membaca, memproduksi visual dapat menjadi cara yang sangat efektif dalam memahami visual.
Perancang atau guru sebaiknya mendorong siswa untuk menyajikan laporan di depan kelas dengan secara cermat memilih sekumpulan gambar dari CD atau koleksi online, yang akan membantu mereka mengembangkan bakat estetis mereka. Perekam kamera video merupakan alat yang mudah digunakan para siswa untuk mempraktikan penciptaan dan penyajian gagasan dan peristiwa dalam bentuk gambar.
Para siswa bisa memindai foto atau gambar ke dalam presentasi buatan- computer menggunakan peranti lunak presentasi seperti Power Point dan Keynote.Ingatkan mereka untuk selalu mematuhi panduan hak cipta di semua kegiatan tersebut.Salah satu kemampuan yang hampir selalu dilibatkan dalam kurikulum pendidikan visual adalah kemampuan mengurutkan.Spesialis membaca telah lama mengetahui bahwa kemampuan untuk mengurutkanya itu menyusun gagasan dalam susunan logis merupakan factor yang sangat penting dalam literasi verbal, terutama dalam kemampuan berkomunikasi dalam menulis.Para siswa mungkin membutuhkan latihan menyusun visual kedalam urutan logis, yang merupakan kemampuan yang harus dipelajari, seperti pengurutan verbal dalam membaca dan menulis.Karena alasan ini, banyak program pendidikan visual, terutama untuk anak sekolah dasar, menekankan aktifitas kreatif mengharuskan penyusunan dan pembuatan visual. Sifat mengurutkan dari preszentasi seperti Power Point membantu para siswa menguasai kemampuan ini (Smaldino, 2012 : 68-72).
2.      Peran Visual DalamInstruksi
       Visual bisa memainkan banyak peran dalam proses belajar, yaitu :
a)      Menyediakan Acuan Konkret bagi Gagasan
Kata-kata tidak tampak atau bersuara seperti hal-hal yang merekawakili ; tetapi, visual bersifat ikonik yaitu mereka memiliki kemiripan dengan hal-hal yang mereka wakili. rangkaian kesatuan konkrit-Abstrak Seperti halnya ikon dilayar computer yang digunakan untuk mewakili hard drive internet anda, atau kontak sampah ikon dan  visual bertindak sebagai tautan yang lebih mudah diingat bagi gagasan asli. Diruang kelas, guru menggunakan visual untuk membantu siswa lebih mudah mengingat konten yang sedang diajarkan. contohnya, seorang guru geometri mungkin membawa sekantong barang-barang toko grosir untuk mengajarkan bentuk-bentuk, misalnya jeruk = bulatan, kaleng = silinder.
b)      Membuat Gagasan  Abstrak Menjadi Konkret
            Visual dapat membantu menjelaskan sesuatu yang abstrak menjadi konkrit, misalnya dalam menggambarkan Tuhan yang bersifat immanent (ada dalam pikiran manusia) dan transenden (diluar pemikiran manusia), maka guru dapat mengumpamakan seperti sebuah pohon dimana dari tanah sampai akar merupakan sifat transenden dan dari tanah sampai cabang/daun dianggap sebagai yang terlihat atau immanent.
c)      Memotivasi Peserta didik
            Visual bisa meningkatkan keteretarikan pada sebuah mata pelajaran. Ketertarikan meningkatkan motivasi. Visual bisa memotivasi para peserta didik dengan menarik perhatian mereka, mempertahankan perhatian mereka, dan menciptakan keterlibatan dalam proses belajar. Visual memanfaatkan kepentingan personal para pembelajar untuk menjadikan pengajaran relevan. Sebagai missal, ketika mengajar mata pelajaran sejarah, tampilkan foto “dahulu” dan “sekarang”.
d)     Mengarahkan Perhatian
            Gunakan petunjuk visual seperti warna, anak panah atau ikon untuk memfokuskan perhatian pada titik-titik penting di dalam konten visual yang kompleks.
e)      Mengulangi Informasi
Ketika visual mendampingi informasi lisan atau tulisan, mereka menyajikan informasi tersebut dalam modalitas yang berbeda, yang memberikan kesempatan kepada para peserta didik untuk memahami secara visual apa yang mungkin saja mereka lewatkan dalam format teks.
f)       Mengingatkan Kembali  PembelajaranSebelumnya
            Visual dapat digunakan untuk mengaktifkan pembelajaran sebelumnya yang tersimpan dalam ingatan jangka panjang. Visual bisa digunakan untuk merangkum dari sebuah pelajaran. Visual-visual ini bisa digunakan pada permulaan pelajaran berikutnya untuk mengingatkan peserta didik apa yang seharusnya dipelajari.
g)      Mengurangi Usaha Belajar
            Visual bisa menyederhanakan informasi yang sulit dimengerti. Diagram memudahkan untuk menyimpan dan mengambil kembali  informasi tersebut. Sering kali bisa dikomunikasikan lebih mudah dan efektif secara visual (Mayer & Moreno, 2003). Sebagai seorang guru, anda ingin menyampaikan pesan anda sedemikian rupa sehingga siswa menghabiskan sedikit usaha memahami apa yang mereka lihat dan bebas menggunakan sebagian besarusaha mental mereka untuk memahami pesan itu sendiri (Gambar 3.14). Diakhir bab ini anda akan belajar beberapa teknik untuk melakukan hal itu.
3.      Jenis-jenis Visual
Jenis-jenis visual yang dipilih untuk situasi tertentu sebaiknya bergantung pada tugas belajar. Visual dapat dibagi menjadi enam kategori, yaitu :
a)      Realistik
Visual realistik menampilkan objek sebenarnya yang sedang dipelajari.Menggunakan warna-warna alamiah dapat meningkatkan derajat realisme. Tentunya tidak ada representasi yang benar-benar realistik karena benda atau kejadian yang sebenarnya akan selalu memiliki aspek yang tidak dapat diperoleh melalui gambar, bahkan dalam gambar tiga dimensi yang bergerak dan berwarna sekalipun.
b)      Analogis
Visual analogis menyampaikan sebuah konsep atau topik dengan menampilkan sesuatu lainnya dan menyiratkan kemiripan. Seperti contohnya mengajarkan peserta didik mengenai konsep Catur Purusa Artha yang menjadi tujuan hidup manusia dengan menampilkan seseorang yang sedang mengarungi lautan luas (dharma) menggunakan sebuah perahu (artha) dengan keinginan yang kuat (kama) menuju pulau yang menjadi tujuan (moksa).
c)      Organisasional
Visual organisasional menampilkan hubungan kualitatif diantara berbagai elemen. Contoh-contoh yang umum meliputi diagram klasifikasi, time lines, diagram alur dan peta.
d)     Relasional
Visual relasional mengkomunikasikan hubungan kuantitatif. Contohnya seperti diagram batang, grafik bergambar, diagram kue dan grafis garis.
e)      Transformasional
Visual transformasional menggambarkan pergerakan atau perubahan sesuai dengan waktu dan tempat. Contohnya seperti diagram beranimasi tentang bagaimana prosedur atau tahapan dalam membuat sebuah canang atau banten.
f)       Interpretif
Visual interpretif menggambarkan hubungan teoretis atau abstrak. Contohnya yaitu diagram skematik dari sebuah sirkuit listrik. Visual interpretif membantu para pembelajar membangun model mental dari kejadian atau proses yang tak terlihat, abstrak atau keduanya.

C.    Panduan Perancangan Visual Untuk Materi Yang Efektif
Merancang sebuah visual dimulai dengan pengumpulan atau pembuatan gambaran individual dan unsur-unsur teks yang ingin digunakan.Asumsinya adalah seorang guru telah menentukan kebutuhan dan minat para peserta didik yang terkait dengan topic dan memutuskan tujuan yang ingin dicapai melalui visual yang sedang direncanakan.
1.      Aspek Dasar
Terdapat dua aspek dasar atau unsur-unsur yang akan digunakan ketika merancang visual, yaitu :
a.       Unsur-unsur Visual
Untuk tujuan memberikan informasi dan atau pengajaran, perangcang visual mencangkup :
·         Pengaturan
Pertama yang harus ditentukan adalah unsur-unsur yang akan disertakan dalam visual untuk kemudian dipertimbangkan tampilan keseluruhannya. Jadi, seorang pendidik akan menentukan pola dasar yang memungkinkan mata peserta didik akan terus mengikuti tampilan visual.
·         Perataan
Tempatkan unsur-unsur utama di dalam satu visual sehingga mereka memiliki hubungan visual yang jelas satu sama lain. salah satu caranya adalah membuat perataan seperti garis-garis imajiner yang parallel dengan tepian tampilan. Peserta didik akan memandang unsur-unsur tersebut sebagai satu kesatuan ketika ujung dari unsur-unsur tersebut sama rata pada garis horizontal atau vertical (gambar 1)

·         Bentuk
Cara lainnya untuk menyusun unsur-unsur visual adalah menyatukannya dalam sebuah bentuk yang telah akrab bagi peserta didik. Gunakanlah pola yang menarik dan gambar geometri yang sederhana seperti lingkaran, segitiga atau persegi akan menyediakan kerangka kerja yang mudah dipahami karena bentuknya mudah ditebak. Bentuk-bentuk yang menyerupai huruf alfabetis juga seringkali digunakan sebagai pola dasar dalam tata letak tampilan seperti huruf Z, L, T dan U. Mengenai kata-kata yang akan digunakan secara tidak langsung akan menjadi bagian dari bentuk itu juga
  ·         Aturan sepertiga
Menurut aturan sepertiga, yaitu unsur-unsur yang tersusun di sepanjang garis yang membagi visual menjadi tiga bagian berdasarkan pentingnya dan kecemerlangannya.

·         Kedekatan
Peserta didikakan menganggap baik unsur-unsur yang berdekatan akan saling berkaitan sedangkan yang terpisah jauh tidak memiliki kaitan. Terlebih apabila posisi gambar berjauhan dengan kata, maka para pembaca akan kebingungan memahami isi tampilan
 
·         Pengarah
Peserta didik akan memindai sebuah tampilan dengan perhatian mereka yang berpindah dari satu bagian ke bagian yang lainnya. Jika seorang guru ingin menampilkan visual dalam urutan tertentu, bisa menggunakan pengarah yang akan mengarahkan perhatian seperti anak panah dan untuk teks sebaiknya menebalkannya atau menggunakan butir-butir (bullets).
·         Kontras sosok dan latar
Unsur-unsur yang penting terutama kata-kata, harus berada dalam kontras yang baik dengan latar belakang. Aturan sederhananya adalah bahwa sosok gelap akan baik terlihat pada latar belakang bercahaya sedangkan sosok terang akan baik terlihat pada latar belakang gelap
·         Konsistensi
Serangkaian visual seperti slide power point akan lebih baik disusun dengan konsisten. Saat peserta didik menyimak serangkaian visual, secara tidak sadar mereka akan membentuk sekumpulan aturan informasi yang akan muncul dalam tampilan. Semakin sering penyusunannya konsisten, maka semakin mudah untuk dimengerti. Caranya adalah tempatkan unsur-unsur yang sama dalam lokasi yang sama, menggunakan teks yang sama untuk judul utama dan menggunakan skema warna yang sama di sepanjang serangkaian tampilan.
·      Keseimbangan
Sebuah perasaan kesamarataan psikologis atau keseimbangan tercapai ketika berat unsur-unsur dalam sebuah tampilan secara merata tersebar pada tiap sisi.Dalam sebagian presentasi, untuk visual keseimbangan yang mampu memikat para pembaca, keseimbangan informal lebih disukai karena terlihat lebih dinamis dan menarik daripada keseimbangan formal
·      Warna
Dalam memilih sebuah skema warna untuk visual, maka perlu memperhatikan keharmonisan warna.Kesalahan yang seringkali dilakukan oleh perancang visual yaitu memadukan dua warna tanpa perhitungan misalnya menempatkan huruf berwarna hijau dengan latar belakang merah. Ada dua kesan yang akan muncul, yang pertama, jika warna-warna tersebut memiliki kegelapan yang sama, huruf tersebut tidak akan memiliki kontras sosok latar yang baik. yang kedua, ketika dua warna yang jenuh atau terlalu tua diletakkan langsung berdekatan satu sama lain, maka mata tidak akan bisa focus pada keduanya pada waktu bersamaan. Kedua hal ini akan memunculkan efek yang tidak menyenangkan
Pett dan Wilson (1996) memberikan alasan untuk penggunaan warna dalam pengajaran, yaitu :
·         Untuk menambahkan realitas
·         Untuk membedakan antara unsur-unsur sebuah visual
·         Untuk memfokuskan perhatian pada isyarat-isyarat yang relevan
·         Untuk mengkodekan dan mengaitkan secara logis unsur-unsur yang berkaitan
·         Untuk menarik perhatian dan menciptakan rspons emosional
Selain itu, pett dan Wilson juga memberikan saran-saran dalam menggunakan warna, yaitu :
·         Konsisten dengan pilihan warna umum di seluruh material
·         Gunakan warna yang sangat jenuh untuk material yang ditujukan pada anak-anak kecil
·         Perhatikan makna-makna warna yang diterima, mislanya merah dan kuning bermakna hangat, hijau dan biru bermakna sejuk dan sebagainya
·         Perhatikan makna-makna para siswa dari berbagai latar belakang budaya berbeda lekatkan pada warna. Seperti contoh di Negara Barat, warna hitam merupakan warna berkabung, sedangkan di Cina dan Jepang, warna putih yang dipandang sebagai warna berkabung.
Jadi, dalam slide presentasi sebaiknya menggunakan warna yang jelas dibaca terutama untuk teks dengan latar belakang, agar pandangan pembaca lebih jelas dan mudah dimengerti, misalnya warna hitam pada teks yang dikombinasikan pada latar yang berwarna kuning atau warna-warna yang sejuk.
·         Legibilitas
Legibilitas artinya sifat yang mudah dibaca. Sebuah visual tentu akan lebih mudah dipahami jika seluruh peserta bisa melihat kata-kata dan gambar yang disajikan. Walaupun dalam ruangan yang cukup besar, pastikan visual yang ditampilkan dapat dibaca oleh seluruh peserta hingga bagian belakang ruangan.Jika masih terasa kurang jelas, maka perancang atau presenter dapat meningkatkan ukuran, jenis huruf atau kontras warna.Selain itu, perancang atau guru tidak hanya sekedar memperhatikan slide yang ditampilkan karena pesan yang disampaikan dapat pula berupa materi cetakan.
·         Menarik
Sebuah visual akan mendapat perhatian dari peserta apabila visual yang ditampilkan menarik bahkan sampai slide terakhir. Terdapat beberapa teknik untuk menghasilkan daya tarik yaitu gaya, kejutan, tekstur dan interaksi. Peserta yang berbeda dan situasi yang berbeda juga membutuhkan gaya desain yang berbeda pula. Untuk terlihat menarik perancang atau guru dapat menampilkan  sesuatu yang tidak biasa atau kombinasi kata dan gambar yang tak serasi, pengaturan warna yang tak biasa serta perubahan ukuran yang dramatis. Peserta akan terus menyimak selama mereka mendapatkan stimulus baru dari setiap slidenya sedangkan mereka akan beralih perhatian apabila slide yang ditampilkan terkesan monoton
b.      Unsur-Unsur Teks
Selain visual, sebagian besar tampilan menyertakan informasi tekstual. Perancang harus benar-benar memperhatikan huruf yang akan diaplikasikan sehingga pesan dapat dibaca dari segi ukuran dan spasinya.
·         Gaya
Gaya dari teks seharusnya konsisten dan selaras dengan unsur-unsur visual lainnya. Seringkali perancang menggunakan banyak ragam model ketikan seperti yang telah tersedia di computer, tetapi sesungguhnya yang terbaik adalah membatasi jumlah keragaman tersebut (misalnya tebal, miring, garis bawah, perubahan ukuran teks atau jenis teks), maksimum sebanyak empat macam dan dua gaya ketikan. Perancang disarankan untuk menggunakan ketikan model Sans Serif yaitu Arial atau Times New Roman.
·         Ukuran
Ukuran yang digunakan dlam tampilan sebaiknya disesuaikan dengan kondisi peserta dan ruangan agar mudah terbaca oleh peserta yang duduk di urutan paling belakang.
·         Spasi
Penentuan spasi disesuaikan dengan huruf yang ditampilkan sehingga apa yang terlihat rata bagi mata. Sedangkan untuk baris-baris teks seharusnya tidak terlalu rapat atau terlalu renggang.Untuk sebuah media yang baik, spasi vertical diantara baris-baris sebaiknay kurang dari tinggi rata-rata huruf kecil semua.
·         Penggunaan Huruf Besar
Untuk mempermudah bacaan pada tampilan, gunakan huruf kecil dan menambahkan huruf besar hanya ketika dibutuhkan.Untuk judul utama yang singkat dapat menggunakan huruf besar.
2.      Membuat Gambar
a.       Perencanaan
Seorang perancang atau guru yang sedang merencanakan serangkaian visual misalnya OHP, slide power point atau layar computer, maka pembuatan storyboard akan dirasa cukup membantu. Teknik ini dipinjam dari teknik pembuatan film dan video, yaitu secara kreatif menyusun ulang keseluruhan urutan sketsa kecil-kecil. Dalam pembuatannya dapat menggunakan sebuah kertas atau slide untuk menampung beberapa rancangan sketsa yang akan ditampilkan.
b.      Merancang sebuah visual dengan computer
Sebagian besar program grafis computer berisi ratusan bahkan ribuan model ketikan dan gambar-gambar clip art seperti KidPix, iWorks, Photoshop dan Adobe Illustrator. Dengan peranti lunak grafis presentasi seperti Microsoft PowerPoint atau Apple Keynote, para pengguna tanpa pelatihan grafis khusus dapat menciptakan tampilan grafis dalam bentuk yang cocok.
Diantara jenis-jenis piranti lunak grafis yang tersedia adalah :
·         Program presentasi yaitu peranti lunak khusus yang mempermudah pembuatan slide setransparan OHP gambar yang menggabungkan teks, data dan visual.
·         Program menggambar dan mewarnai yaitu memungkinkan pengguna untuk menggambar bentuk-bentuk geometri.
·         Program pendiagraman yaitu digunakan untuk membuat diagram, grafis atau laporan dari data spreadsheet numeric.
·         Program peningkatan foto yaitu memungkinkan manipulasi warna dan menggunakan efek khusus untuk mengubah foto.
·         Program desktop publishing yaitu menggabungkan fitur-fitur dari banyak metode lainnya untuk menciptakan produk-produk canggih seperti newsletter, laporan dan buku.
c.       Membuat grafis presentasi
Panduan untuk membuat grafis presentasi menggunakan peranti lunak seperti powerpoint atau keynote :
·         Pilihlah jenis huruf, ukudan dan warna secara cermat. Huruf sans serif (Arial dan Times New Roman) akan lebih mudah dibaca dengan ukuran 24 atau lebih besar sesuai kondisi peserta. Penggunaan huruf kecil dan besar digunakan dengan tepat sesuai teks dan untuk masalah warna arna teks sebaiknya kontras dengan warna latar belakang.
·         Gunakan background atau latar belakang yang polos dan berwarna cerah. hindari penggunaan background berupa wallpaper yang ramai karena dapat mengalihkan perhatian peserta. Sebagian besar peserta akan menganggap teks yang gelap pada background yang terang akan lebih mudah dibaca dibandingkan teks yang terang pada latar belakang yang gelap.
·         Letakkan judul di tengah atau kiri di puncak slide. Untuk membantu peserta mengikuti presentasi, guru dapat pula menggunakan judul dan subjudul deskriptif di puncak setiap slide.
·         Gunakan komunikasi yang singkat artinya menggunakan kata seminimum mungkin pada setiap slide agar. Jika menginginkan lebih banyak kata maka dapat menggunakan slide kedua.
·         Gunakan sebuah template untuk membuat format visual yang konsisten. Ini memungkinkan perancang membuat sebuah presentasi yang seluruh slidenya menampilkan visual yang sama dengan warna latar balakang yang sama pula.
·         Gunakan slide induk untuk membuat format teks yang konsisten. Slide induk memungkinkan perancang menempatkan teks pada jenis huruf spesifik di posisi yang sama di setiap slide.
·         Kurangi menyelipkan gmabar-gambar yang bisa mengalihkan mata peserta seperti lonceng, peluit atau pizza. Hal ini justru akan terkesan berlebihan dan tidak substantif.
·         Pergunakalnah gambar yang sesuai dan relevan dengan konten yang dibawakan. Pilih atau buatlah grafik yang secara efektif mampu mengkomunikasikan pesan yang disampaikan.
·         Pergunakanlah transisi yang konsisten atau proses bergantinya satu slide ke slide berikutnya. Sebaiknya hindari transisi acak dan suara berisik yang muncul dari efek audio dari transisi.
·         Gunakan dengan cermat animasi untuk mendukung pesan pengajaran dibandingkan menambahkan efek dramatis ke dalam presentasi. Animasi yang terlalu berlebihan akan membuat pembaca justru lebih lama membaca teks dan memahami teks yang disampaikan karena perhatian akan tertuju pada animasi.
·         Mengurangi penggunaan suara dalam slide seperti suara berdecit atau suara penghitungan uang yang justru akan menghilangkan konsentrasi peserta. Pergunakanlah suara jika memang diperlukan dan untuk mendukung presentasi.
·         Jika diperlukan, perancang atau guru dapat menyelipkan catatan kaki untuk mengidentifikasi slide. Catatan kaki memungkinkan perancang menjelaskan bagian bawah slide dengan nama, topic presentasi atau tanggal pembuatan presentasi.

 D.    Kelebihan dan Kelemahan Media Visual
Alat bantu visual bertujuan untuk:
  1. Memperkenalkan, membentuk, memperkaya, serta memperjelas pengertian atau konsep yang abstrak kepada siswa.
2.      Mengembangkan sikap-sikap yang dikehendaki.
3.      Mendorong kegiatan siswa lebih lanjut.
Konsep pngajaran visual didasarkan atas asumsi bahwa pengertian-pengertian yang abstrak dapat disajikan lebih konkret.Pengongkretan pengajaran visual sampai sekarang masih tetap berguna. Di samping itu, gerakan pengajaran visual memperkenalkan dua macam konsep pemikiran lainnya yang masih dipakai, yaitu: pertama, pentingnya pengelompokan jenis-jenis alat bantu visual yang dipakai dalam kegiatan instruksional; kedua, perlunya pengintegrasian bahan-bahan visual ke dalam kurikulum sehingga penggunaannya tidak terpisahkan (integrated teaching materials).
Ada beberapa kelemahan sehubungan dengan gerakan pengajaran visual itu, antara lain :
1.      Terlalu menekankan bahan-bahan visualnya sendiri dengan tidak menghiraukan  kegiatan-kegiatan lain yang berhubungan dengan desain, pengembangan, produksi, evaluasi, dan pengelolaan bahan-bahan visual.
2.      Bahan visual di pandang sebagai “alat bantu” semata-mata bagi guru dalam melaksanakan kegiatan mengajarnya sehingga keterpaduan antara bahan-pelajaran dan alat bantu tersebut diabaikan.

BAB III
PENUTUP
A.      Simpulan
Dengan menggunakan media visual secara tepat dan bervariasi dapat mengatasi sikap pasif siswa. Sehingga menimbulkan gairah belajar, memungkinkan interaksi langsung antara siswa, lingkungan, kenyataan, dan memungkinkan siswa untuk belajar sesuai dengan minat dan kemampuannya.Penggunaan media visual dalam pembelajaran dapat membantu anak dalam memberikan pengalaman yang bermakna bagi siswa. Penggunaan media visual pembelajaran dapat mempermudah siswa dalam memahami sesuatu yang abstrak menjadi lebih konkrit.
B.       Saran
Adapun saran yang dapat penulis sampaikan yaitu bagi perancang visual dalam hal ini tenaga pendidik atau guru sebaiknya memperhatikan kondisi, materi serta peserta didik yang akan diberikan presentasi. Dalam perancangan sudah sepatutnya mengikuti aturan yang telah ada sehingga visual yang ditayangkan mampu membawa pesan seutuhnya dan dapat mudah dipahami oleh peserta didik.Untuk itu diperlukan kecermatan serta kreatifitas dari perancang guna menciptakan materi yang dibawakan lebih efektif.

DAFTAR PUSTAKA
 Assyad, Ahmad. 2014. Media Pembelajaran. Jakarta Pt. Rajagrafindo Persada
Nasution. 2011. Sosiologi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara
Smaldino, Sharon E. 2012. Instructional Technology & Media For Learning. Jakarta : Kencana
Sudjana, Nana dan Rivai Ahman. 2003. Teknologi Pengajaran. Bandung. Sinar Baru Algensindo.
Sudarsana, I. K. (2014). PENGEMBANGAN MODEL PELATIHAN UPAKARA BERBASIS NILAI PENDIDIKAN AGAMA HINDU UNTUK MENINGKATKAN PERILAKU KEWIRAUSAHAAN: Studi pada Remaja Putus Sekolah di Kelurahan Peguyangan Kota Denpasar.
Sudarsana, I. K. (2015). PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH DALAM UPAYA PEMBANGUNAN SUMBER DAYA MANUSIA. Jurnal Penjaminan Mutu, (Volume 1 Nomor 1 Pebruari 2015), 1-14.
Sudarsana, I. K. (2016). DEVELOPMENT MODEL OF PASRAMAN KILAT LEARNING TO IMPROVE THE SPIRITUAL VALUES OF HINDU YOUTH. Jurnal Ilmiah Peuradeun, 4(2), 217-230.
Sudarsana, I. K. (2016). PEMIKIRAN TOKOH PENDIDIKAN DALAM BUKU LIFELONG LEARNING: POLICIES, PRACTICES, AND PROGRAMS (Perspektif Peningkatan Mutu Pendidikan di Indonesia). Jurnal Penjaminan Mutu, (2016), 44-53.

0 komentar:

Posting Komentar