Profile

Foto saya

I Ketut Sudarsana lahir di Desa Ulakan Kecamatan Manggis Kabupaten Karangasem Provinsi Bali pada tanggal 4 September 1982. Ia adalah anak bungsu dari tiga bersaudara yang lahir dari pasangan I Ketut Derani (Alm.) dan Ni Ketut Merta. Menikah dengan Adi Purnama Sari, S.Pd.H. dan dikaruniai tiga orang anak; Saraswati Cetta Sudarsana (4 tahun), Kamaya Narendra Sudarsana dan Ganaya Rajendra Sudarsana (3 tahun).
Jenjang pendidikan formal yang dilalui adalah SDN 4 Ulakan lulus pada tahun 1994, SMPN 1 Manggis lulus tahun 1997, dan SMKN 1 Sukawati lulus tahun 2000. Pada tahun 2004 menyelesaikan pendidikan sarjana (S1) Pendidikan Agama Hindu di STAHN Denpasar, dan program Magister (S2) Pendidikan Agama Hindu di IHDN Denpasar lulus tahun 2009. Tahun 2011 berkesempatan melanjutkan pendidikan Doktor (S3) Pendidikan Luar Sekolah di Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia Bandung.
Pengalaman kerja dimulai pada tanggal 1 Januari 2005 sampai sekarang sebagai dosen tetap Fakultas Dharma Acarya IHDN Denpasar. Pendidikan dan pelatihan yang pernah diikuti antara lain : Peningkatan Mutu Pendidikan Calon Dosen dan Pegawai tahun 2006, Prajabatan Golongan III tahun 2006, Penulisan Karya Ilmiah Dosen tahun 2006, Diklat. tenaga dosen tahun 2006, Diklat. Metodelogi Penelitian Bagi Tenaga Dosen tahun 2007, Orientasi Penulisan Jurnal Ilmiah Terakreditasi Pada Perguruan Tinggi Hindu tahun 2010.
Saat ini beralamat di Jalan Antasura Gg. Krisna No. 5x Peguyangan Kangin, Kecamatan Denpasar Utara, Kota Denpasar, Provinsi Bali, dengan email ulakan82@gmail.com


Senin, 08 Mei 2017

STRATEGI-STRATEGI PENGAJARAN DENGAN MEMADUKAN TEKNOLOGI DAN MEDIA

STRATEGI-STRATEGI PENGAJARAN DENGAN MEMADUKAN TEKNOLOGI DAN MEDIA

 Diajukan untuk memenuhi Tugas Semester II
Mata Kuliah Kajian Teknologi Pendidikan
Dosen Pengampu: Dr. I Ketut Sudarsana, S.Ag., M.Pd.H

 Oleh:
 KOMANG AGUSTYANA PUTRA          15.1.2.5.2.0816
NI NYOMAN ARI LASTINI                      15.1.2.5.2.0817
I MADE GEDE ARY SUJAYA                 15.1.2.5.2.0818
I WAYAN ADE WIDIARTA                     15.1.2.5.2.0819
WAYAN SUMARKANDIA                                   15.1.2.5.2.0820

 

BAB I

PENDAHULUAN

 1.1 Latar Belakang
Arus globalisasi membawa efek yang sangat besar di berbagai kalangan manusia khususnya di dunia pendidikan. Perkembangan globalisasi berdampak pada teknologi yang membantu manusia untuk melakukan segala aktivitas, sehingga sebagian besar manusia yang sudah pernah menggunakan teknologi terpengaruh dan ketergantungan untuk memakai teknologi. Khususnya yang umum kelihatan adalah pengunaan handphone.
Seiring pekembangan, dunia pendidikan telah terpengaruh oleh teknologi. Para pendidik yang semakin modern sekarang memanfaatkan teknologi dalam proses pembelajaran. Pemanfaatan ini bertujuan untuk mempersiapkan pendidik untuk mengikuti pembelajaran. Melalui pemanfaatan teknologi pengajar atau guru pun dituntuk agar mampu menggunakan teknologi dengan menggabungkan teknologi dan media demi memenuhi kebutuhan peserta didik. Dengan pengabungan teknologi dan media akan menambah wawasan peserta didik.
Wawasan secara singkat didefinisikan, sebagai pengertian dasar mengenai, atau perasaan kepada, hubungan-hubungan yang terjadi. Wawasan umum dalam pengertian lain adalah suatu ketajaman yang dapat diterapkan seseorang kepada beberapa situasi/proses bahkan lebih banyak kepada peristiwa  yang sama, tetapi tidak perlu identik. Dengan wawasan peserta didik dapat menyadari pengertian dari persoalan (Sudjana, 1991:98).
Teknologi pembelajaran sebelumnya di pandang sebagai teknologi yang berkaitan dengan penggunaan peralatan, media dan sarana.  Namun, sekarang teknologi pembelajaran dipandang teori dan praktek dalam desain, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan, serta evaluasi tentang proses dan sumber untuk belajar. Di lapangan sudah banyak para pendidik menggunakan strategi dalam pengajaran dengan memadukan teknologi dan media. Namun terdapat pula beberapa guru yng masih menggunakan sistem cerama. Sehinggga pada tulisan ini akan dibahas mengenai strategi-strategi pendidikann dengan memadukan teknologi dan media.

1.2 Rumusan Masalah:

1.      Apa pengertian strategi pengajaran, teknologi dan media?
2.      Apa saja jenis strategi-strategi pengajaran dengan memadukan teknologi dan media?
3.      Bagaimana dampak pengajaran dengan memadukan teknologi dan media?

1.3 Tujuan

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
  1. Mengetahui pengertian strategi pengajaran, teknologi dan media
  2. Mengetahui jenis strategi-strategi pengajaran dengan memadukan teknologi dan media.
  3. Mengetahui dampak pengajaran dengan memadukan teknologi dan media.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Strategi Pengajaran, Teknologi Dan Media

2.1.1 Pengertian Strategi Pengajaran
            Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kata strategi berarti ilmu siasat perang, akal atau tipu muslihat untuk mencapai sesuatu maksud dan tujuan yang telah direncanakan(Tim Penyusun, 2009:809). Strategi yang diterapkan dalam dunia pendidikan, khususnya yang diterapkan dalam proses mengajar adalah suatu seni dan ilmu untuk membawa pengajaran di kelas sedemikian rupa sehingga tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dapat dicapai secara efektif dan efisien (Gulo, 2002:2).
Sedangkan pengajaran berarti proses, perbuatan, cara mengajar atau mengajarkan, prihal mengajar, segala sesuatu mengenai mengajar, peringatan (tentang pengalaman, peristiwa yang dialami atau dilihatnya) (Tim Penyusun, 2009:18).
            Strategi pengajaran adalah merencanakan cara pengajaran kepada anak didik sebelum melaksanakan pembelajaran di ruang kelas. Perencanaan ini dilakukan secara matang agar peserta didik mampu memperhatikan dan menyerap materi yang diberikan dengan proses pembelajaran yang menarik. Perencanaan cara-cara membawakan pengajaran agar segala prinsip dasar dapat terlaksana dan segala tujuan pengajaran dapat dicapai secara efektif.
 
2.1.2 Pengertian Teknologi
Menurut Anglin mendefinisikan teknologi sebagai penerapan ilmu-ilmu perilaku dan alam serta pengetahuan lain. Secara bersistem dengan sistem untuk memecahkan masalah. Selanjutnya menurut Tom Burns mengartikan teknologi sebagai kumpulan pengetahuan, tetapi pengetahuan itu dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu pengetahuan yang masih bersifat tradisional sebelum terjadinya industrialisasi dan pengetahuan yang telah bercorak modem dalam masyarakat industri untuk produksi berbagai barang dan jasa.
Teknologi merupakan cara melakukan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan manusia yang dibantu dengan alat dan akal sehingga dapat memperpanjang, memperkuat atau membuat lebih ampuh anggota tubuh, panca indra, dan otak manusia. Cara yang bersistem dengan sistem untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi oleh manusia.
Dalam bidang pendidikan, pemanfaatan teknologi informasi difokuskan pada peningkatan kualitas pembelajaran sehingga dapat meningkatkan kualitas pendidikan. Selain itu, teknologi informasi dapat dimanfaatkan dalam berbagai bidang seperti ekonomi, politik, sosial, dan lain-lain. Teknologi informasi pendidikan adalah ilmu pengetahuan dalam bidang informasi berbasis komputer yang digunakan dalam peningkatan kualitas pendidikan (Prasojo, 2011:5).
Selanjutnya Januszewski (dalam Arsyad, 2015:7) menjelaskan bahwa teknologi pendidikan atau pembelajaran adalah kajian dan praktik etis untuk menfasilitasi belajar dan memperbaiki kinerja dengan menciptakan, menggunakan, dan mengelola proses serta sumber-sumber teknologi yang sesuai.
Perkembangan selanjutnya teknologi pembelajaran merupakan suatu disiplin ilmu tersendiri yang bukan hanya terbatas pada media dalam bentuk peralatan fisik semata, melainkan merupakan kajian dan praktik etis dalam mendesain, mengembangkan, menggunakan, mengelola, dan mengevaluasi proses dan sumber teknologi yang sesuai untuk memfasilitasi belajar dan memperbaiki kinerja tenaga pendidik, peserta didik, dan organisasi kependidikan (Arsyad, 2015:7).
Dari beberapa pengertian di atas teknologi pendidikan didasarkan pada pemanfaatannya dalam bidang pendidikan. Teknologi pendidikan dapat diartikan sebagai ilmu pengetahuan yang memfokuskan tingkat pembelajaran dengan menggunakan media, teori dan sumber teknologi sebagai fasilitas dari proses pembelajaran, serta meningkatkan efektifitas pengajar, dan peserta didik.
2.1.3 Pengertian Media
            Kata media berasal dari bahasa Latin dan merupakan bentuk jamak dari kata medium yang secara harfiah berarti perantara atau penghantar. Metode adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan (Sadiman, 2010:6). Selanjutnya (Arsyad, 2003:4) media yang membawa pesan-pesan atau informasi yang bertujuan intruksional atau mengandung maksud-maksud pengajaran maka media itu disebut media pengajaran.
Media yang difungsikan sebagai sumber belajar bila dilihat dari pengertian harfiahnya juga terdapat manusia didalamnya, benda, ataupun segala sesuatu yang memungkinkan untuk anak didik memperoleh informasi dan pengetahuan yang berguna bagi anak didik dalam pembelajaran. Sasaran penggunaan media adalah agar anak didik mampu mencipatakan sesuatu yang baru dan mampu memanfaatkan sesuatu yang telah ada untuk dipergunakan dengan bentuk dan variasi lain yang berguna  dalam kehidupannya. Dengan demikian mereka dengan mudah mengerti dan mamahami materi pelajaran yang disampaikan oleh guru kepada mereka.
Dapat diartikan bahwa media merupakan sebuah perantara yang menghantarkan pesan atau materi kepada penerimanya. Sumber belajar yang baru dan mampu memanfaatkan sesuatu yang telah ada untuk dipergunakan dengan bentuk dan variasi lain yang berguna  dalam kehidupannya.
            Pengelompokan dari beberapa media telah dikelompokkan pula beberapa ahli, seperti Keep & Dayton (Arsyad, 2015:39) mengelompokan media ke dalam delapan jenis, yaitu: media cetak, media pajang, overhead tranparacies, rekaman audiotape, seri slide dan film strips, penyajian multi image, rekaman video dan film hidup, serta komputer.
            Media cetak meliputi materi yang telah disiapkan dalam bentuk tulisan di atas kertas digunakan untuk proses pengajaran dan informasi bagi anak-anak dikelas; Media pajang digunakan untuk menyampaikan pesan di kelas dengan sarana gambar yang ditempelkan pada papan. Siswa dapat melihat papan tulis utuk dapat mengikuti pembelajaran secara efektif.

2.2 Jenis Strategi-Strategi Pengajaran di Kelas dengan Memadukan Teknologi dan Media

Strategi pengajaran merupakan perpaduan dari urutan kegiatan, cara mengorganisasikan materi pelajaran peserta didik, peralatan dan bahan, dan waktu yang digunakan dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan (Deni, 2012:49).
Dalam menentukan strategi pengajaran dengan memadukan teknologi dalam pembelajaran tentunya mempertimbangkan berbagai faktor karena mengingat penggunaan teknologi yang berpengaruh memungkinkan kecepatan transformasi ilmu pengetahuan kepada peserta didik, generasi bangsa ini secara luas. Selain itu, akan mempengaruhi hasil belajar siswa, usia siswa dan juga kenyamanan menerapkan strategi yag digunakan. Maka bagi pendidik harus selektif pada pilihannya dan menggunakan berbagai pendekatan  yang membantu peserta didik untuk mencapai hasil belajar yang diharapkan. Jenis strategi-strategi pengajaran di kelas dengan memadukan teknologi dan media selama proses pembelajaran berlangsung, adapun jenisnya yaitu presentasi, demonstrasi, latihan dan praktik, tutorial, serta diskusi.
1. Presentasi
Dalam sebuah presentasi, sebuah sumber menyajikan atau menyebarkan informasi kepada pemelajar. Komunikasi dikendalikan oleh sumber dengan respons segera atau interaksi dengan pemelajar. Ketika guru menyajikan pembelajaran dengan presentasi, mereka akan memberikan pertanyaan-pertanyaan untuk para siswa atau para siswa yang bertanya ketika bahan pengajaran sedang disajikan. Karena itu maka akan timbul interaksi antara keduanya dan guru bisa memilih untuk mengendalikan interaksi di dalam presentasi. Sumber yang didapatkan bisa melalui buku, internet, video, rekaman audio dan lain sebagainya.
Presentasi tidak selalu harus berupa guru di depan kelas memberi pengajaran. Para siswa bisa melihat video yang memberikan informasi yang mereka butuhkan tentang topik, dan bisa meliputi tampilan yang menarik tentang bidang studi tersebut. Bisa mengarahkan audio kedalam teks untuk mengarahkan pembelajaran siswa. Guru bisa langsung mengarahkan siswa di dalam kelas, menggunakan sumber daya seperti papan putih untuk catatan, transparan OHP atau slide power point.
2. Demonstrasi
Dalam sebuah demonstrasi, para pemelajar melihat contoh nyata dari sebuah keterampilan atau prosedur untuk dipelajari. Demonstrasi mungkin direkam dan diputar ulang melalui sarana media seperti video. Jika ingin interaksi dua arah, diperlukan tutor yang hadir secara langsung.
Guru bisa menyiapkan video demonstrasi di depan kelas, guru juga bisa memanfaatkan benda aktual untuk demonstrasi. Seperti cara berwudhu, guru bisa menampilkan video ataupun seorang guru mempraktikan cara berwudhu terhadap siswa. 

3. Latihan dan praktik
Dalam latihan dan praktik, para pemelajar dibimbing melewati serangkaian latihan praktis yang dirancang untuk menyegarkan kembali atau meningkatkan penguasaan pengetahuan konten spesifik atau sebuah keterampilan baru.
Latihan dan praktik biasanya digunakan untuk mata pelajaran matematika, belajar bahasa ataupun untuk mengembangkan bahasa asing. Media dan sistem pengajaran biasanya bagus diterapkan untuk media latihan dan praktiknya. Seperti kaset audio, kartu flash, dan worksheet dapat digunakan secara efektif untuk latihan dan praktik, untuk pelajaran mengeja, aritmatika, dan bahasa.
4. Tutorial
Dalam tutorial, seorang tutor menyajikan konten, mengajukan pertanyan, meminta respons dari pemelajar, menganalisis respons tersebut, memberikan umpan balik, dan memberikan praktik hingga para pembelajar menunjukkan level dasar kompetensi.
Perbedaan antara tutorial dan latihan dan praktik adalah bahwa tutorial memperkenalkan dan mengajarkan materi baru, sementara latihan dan praktik fokus pada konten yang diajarkan dalam format lainnya. Para siswa seringkali bekerja mandiri atau satu lawan satu dengan seseorang saat mereka diberikan paket kumpulan kecil informasi yang dirancang untuk dibentuk menjadi sekumpulan pengetahuan dan praktik dengan umpan balik.
Guru dapat mempertimbangkan menggunakan teknologi dan media sebagai cara menyampaikan tutorial. Pelaksanaan tutorial meliputi instruktur ke pemelajar, pemelajar ke pemelajar (misalnya, pemberian tutorial dengan sesama rekan atau pusat belajar), komputer ke pemelajar (misalnya, peranti lunak tutorial yang dibantu komputer) dan cetakan ke pemelajar. Komputer secara khusus dibuat untuk menjalankan peran tutor karena kemampuannya menyampaikan menu respon yang kompleks terhadap berbagai masukan yang berbeda dari para siswa.
5. Diskusi
Diskusi adalah pertukaran gagasan dan opini diantara para siswa atau guru. Diskusi bisa digunakan dalam tahap pembelajaran dan pengajaran apapun, bisa dengan membagi kelompok kecil maupun kelompok besar. Strategi ini merupakan cara yang bermanfaat dalam mengukur pengetahuan, keterampilan, dan sikap dari sekelompok siswa sebelum mengakhiri tujuan pengajaran, terutama ketika memperkenalkan topik baru atau pada permulaan tahun ajaran baru ketika guru belum memahami para siswa.
Menampilkan sebuah video bisa memberikan pengalaman umum dan jika menampilkan isu yang tepat memberikan sesuatu untuk didiskusikan. Dengan mengarahkan diskusi menuju hasil-hasil belajar, mungkin bahwa para siswa akan menentukan sendiri kebutuhan untuk mempelajari lebih jauh tentang topik tersebut sebelum mereka bisa sepenuhnya berpartisipasi dalam sebuah diskusi.
2.3 Dampak Pengajaran dengan Memadukan Teknologi dan Media
            Pengajaran yang memadukan teknologi dan media banyak mendapatkan keuntungan pada saat proses pembelajaran khususnya pada mata pelajaran yang materinya padat. Dampak positif dari penggunaan strategi pengajaran dengan memadukan teknologi dan media dapat diuraikan sebagai berikut:
1.      Penyampaian pelajaran menjadi lebih baku. Setiap pelajar yang melihat atau mendengarkan penyajian melalui media menerima pesan yang sama. Penggunaan media pada proses pembelajaran akan lebih memperkecil kemungkinan perbedaan tafsiran isi pelajaran oleh para guru, sehingga informasi yang sama dapat disampaikan kepada siswa. 
2.      Pembelajaran bias lebih menarik. Media dapat diasosiasikan sebagai penarik perhatian dan membuat siswa tetap terjaga dan memperhatikan. Kejelasan dan keruntutan pesan, daya tarik image yang berubah-rubah, penggunaan efek khusus yang dapat menimbulkan keingintahuan menyebabkan siswa siswa tertawa dan berpikir, yang kesemuanya menunjukkan bahwa media memiliki aspek motivasi dan meningkatkan minat.
3.      Pelajaran menjadi lebih interaktif dengan diterafkan teori belajar dan perinsip-prinsip psikologis yang diterima dalam hal partisipasi siswa, umpan balik dan penguatan.
4.      Lama waktu pembelajaran dapat disingkat karena kebanyakan media hanya memerlukan waktu singkat untuk menyampaikan materi-materi yang cukup banyak dan kemungkinannya dapat diserap oleh siswa.
5.      Kualitas hasil belajar dapat ditingkatkan bila perpaduan antara kata da gambar sebagai media pembelajaran dapat mengkomunikasikan elemen-elemen pengetahuan dengan cara yang terorganisasi dengan baik, spesifik, dan jelas.
6.      Pembelajaran dapat diberikan kapan dan di mana diinginkan atau diperlukan terutama jika media pembelajaran dirancang untuk penggunaan secara individu.
7.      Sikap positif siswa terhadap apa yang mereka pelajari  dan terhadap proses pembelajaran dapat ditingkatkan.
8.      Peran guru dapat berubah kea arah yang positif, beban guru dalam menjelaskan secara berulang-ulang dapat dikurangi. Sehingga guru dapat memusatkan perhatian siswa untuk membimbing siswa (Arsyad, 2015:25-27).

Selanjutnya dijelaskan pula manfaat media dan teknomogi dalam proses pembelajaran sebagai berikut:
1.       Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalistis ( dalam bentuk      kata   kata )
2.      Mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan daya inderawi, seperti objek yang terlalu besar, objek yang kecil, gerak yang terlalu lambat atau terlalu cepat, kejadian yang terjadi di masa lalu, objek yang terlalu kompleks, atau konsep yang terlalu luas.
3.      Mengatasi sikap pasif anak didik dengan penggunaan media yang tepat dan bervariasi.
4.      Memberikan perangsangan yang sama, mempersamakan pengalaman,    menimbulkan  persepsi yang sama diantara anak didik, karena perbedaan latar belakang guru dan siswa yang berbeda mengakibatkan sulitnya menyamakan persepsi anak didik mengenai suatu konsep jika tidak menggunakan media pendidikan.
5.      Membangkitakan ide-ide atau gagasan-gagasan yang bersifat konseptual, sehingga mengurang kesalahpahaman siswa dalam mempelajarinya.
6.      Meningkatkan minat siswa untuk materi pelajaran.
7.      Memberikan pengalaman-pengalaman nyata yang merangsang aktivitas diri sendiri untuk belajar.
8.      Dapat mengembangkan jalan pikiran yang berkelanjutan.
9.      Menyediakan pengalaman-pengalaman yang tidak mudah didapat melalui materi-materi yang lain dan menjadikan proses belajar mendalam dan beragam.
10.  Penyampaian pelajaran menjadi lebih baku. Setiap pelajar yang melihat atau mendengar penyajian melalui media menerima pesan yang sama.
11.  engajaran bisa lebih menarik. Media dapat diasosiasikan sebagai penarik perhatian dan membuat siswa tetap terjaga dan memperhatikan.
12.  Pembelajaran menjadi lebih interaktif dengan diterapkannya teori belajar dan prinsip-prinsip psikologis yang diterima dalam hal partisipasi siswa, umpan balik, dan penguatan.
13.  Lama waktu pengajaran yang diperlukan dapat dipersingkat untuk mengantarkan pesan-pesan dan isi pelajaran dalam jumlah yang cukup banyak dan kemungkinannya dapat diserap oleh siswa.
14.  Kualitas hasil belajar dapat ditingkatkan
15.  Pengajaran dapat diberikan kapan dan dimana diinginkan.
16.  Sikap positif siswa terhadap apa yang mereka pelajari dan terhadap proses belajar dapat ditingkatkan.
17.  Peran guru dapat berubah kearah yang lebih positif,dalam proses belajar mengajar.
Dampak teknologi dan media dalam pengajaran sangat berpengaruh terhadap siswa, melalui strategi ini akan memberikan pengalaman baru kepada siswa dengan konsep yang masih bersifat abstrak, menambah motivasi belajar, menambah semangat belajar, dan mempertinggi daya serap belajar.

 

BAB III

PENUTUP


3.1 Kesimpulan
Strategi pengajaran dengan memadukan teknologi dan media dalam  merencanakan cara pengajaran kepada anak didik sebelum melaksanakan pembelajaran dengan materi yang memfokuskan tingkat pembelajaran dengan menggunakan media, teori dan sumber teknologi sebagai fasilitas dari proses pembelajaran, serta meningkatkan efektifitas pengajar, dan peserta didik.
Jenis strategi-strategi pengajaran di kelas dengan memadukan teknologi dan media selama proses pembelajaran berlangsung, adapun jenisnya yaitu presentasi, demonstrasi, latihan dan praktik, tutorial, serta diskusi.
Dampak teknologi dan media dalam pengajaran sangat berpengaruh terhadap siswa, melalui strategi ini akan memberikan pengalaman baru kepada siswa dengan konsep yang masih bersifat abstrak, menambah motivasi belajar, menambah semangat belajar, dan mempertinggi daya serap belajar.
3.2 Saran
Berdasarkan simpulan di atas, dapat disarankan beberapa hal sebagai berikut:
  1. Kepada pendidik diharapkan agar memanfaatkan pengajaran dengan memadukan teknologi dan media.
  2. Kepada mahasiswa pendidikan agar mempelajari lebih jauh tentang pengajaran dengan memadukan teknologi dan media.

DAFTAR PUSTAKA

 Arsyad, Azhar. dkk. 2003. Media Pembelajaran. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Arsyad, Azhar. dkk. 2015. Media Pembelajaran (cetakan ke-15). Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Deni, Darmawan. Teknologi Pembelajaran. 2012. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Gulo, W. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana.
http://ictcommunity.multiply.com/journal/item/17/, (diakses tanggal 12 Maret 2016, jam 09.50 Wita).
Prasojo, Lantip Diat. Riyanto. 2011. Teknologi Informasi Pendidikan. Yogyakarta: Gava Media.
Sadiman, Arief S. 2010. Media Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Sudarsana, I. K. (2014). PENGEMBANGAN MODEL PELATIHAN UPAKARA BERBASIS NILAI PENDIDIKAN AGAMA HINDU UNTUK MENINGKATKAN PERILAKU KEWIRAUSAHAAN: Studi pada Remaja Putus Sekolah di Kelurahan Peguyangan Kota Denpasar.
Sudarsana, I. K. (2015). PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH DALAM UPAYA PEMBANGUNAN SUMBER DAYA MANUSIA. Jurnal Penjaminan Mutu, (Volume 1 Nomor 1 Pebruari 2015), 1-14.
Sudarsana, I. K. (2016). DEVELOPMENT MODEL OF PASRAMAN KILAT LEARNING TO IMPROVE THE SPIRITUAL VALUES OF HINDU YOUTH. Jurnal Ilmiah Peuradeun, 4(2), 217-230.
Sudarsana, I. K. (2016). PEMIKIRAN TOKOH PENDIDIKAN DALAM BUKU LIFELONG LEARNING: POLICIES, PRACTICES, AND PROGRAMS (Perspektif Peningkatan Mutu Pendidikan di Indonesia). Jurnal Penjaminan Mutu, (2016), 44-53.
Sudjana, Nana. 1991. Teori-Teori Belajar untuk Pengajaran. Jakarta: Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia
Tim Penyusun. 2009. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Pustaka Phoenix.

0 komentar:

Posting Komentar