Profile

Foto saya

I Ketut Sudarsana lahir di Desa Ulakan Kecamatan Manggis Kabupaten Karangasem Provinsi Bali pada tanggal 4 September 1982. Ia adalah anak bungsu dari tiga bersaudara yang lahir dari pasangan I Ketut Derani (Alm.) dan Ni Ketut Merta. Menikah dengan Adi Purnama Sari, S.Pd.H. dan dikaruniai tiga orang anak; Saraswati Cetta Sudarsana (4 tahun), Kamaya Narendra Sudarsana dan Ganaya Rajendra Sudarsana (3 tahun).
Jenjang pendidikan formal yang dilalui adalah SDN 4 Ulakan lulus pada tahun 1994, SMPN 1 Manggis lulus tahun 1997, dan SMKN 1 Sukawati lulus tahun 2000. Pada tahun 2004 menyelesaikan pendidikan sarjana (S1) Pendidikan Agama Hindu di STAHN Denpasar, dan program Magister (S2) Pendidikan Agama Hindu di IHDN Denpasar lulus tahun 2009. Tahun 2011 berkesempatan melanjutkan pendidikan Doktor (S3) Pendidikan Luar Sekolah di Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia Bandung.
Pengalaman kerja dimulai pada tanggal 1 Januari 2005 sampai sekarang sebagai dosen tetap Fakultas Dharma Acarya IHDN Denpasar. Pendidikan dan pelatihan yang pernah diikuti antara lain : Peningkatan Mutu Pendidikan Calon Dosen dan Pegawai tahun 2006, Prajabatan Golongan III tahun 2006, Penulisan Karya Ilmiah Dosen tahun 2006, Diklat. tenaga dosen tahun 2006, Diklat. Metodelogi Penelitian Bagi Tenaga Dosen tahun 2007, Orientasi Penulisan Jurnal Ilmiah Terakreditasi Pada Perguruan Tinggi Hindu tahun 2010.
Saat ini beralamat di Jalan Antasura Gg. Krisna No. 5x Peguyangan Kangin, Kecamatan Denpasar Utara, Kota Denpasar, Provinsi Bali, dengan email ulakan82@gmail.com


Teknologi Pendidikan

Dosen Pengampu : Dr. I Ketut Sudarsana, S.Ag., M.Pd.H.

Teknologi Pendidikan

Dosen Pengampu : Dr. I Ketut Sudarsana, S.Ag., M.Pd.H.

Teknologi Pendidikan

Dosen Pengampu : Dr. I Ketut Sudarsana, S.Ag., M.Pd.H.

Teknologi Pendidikan

Dosen Pengampu : Dr. I Ketut Sudarsana, S.Ag., M.Pd.H.

Teknologi Pendidikan

Dosen Pengampu : Dr. I Ketut Sudarsana, S.Ag., M.Pd.H.

Teknologi Pendidikan

Dosen Pengampu : Dr. I Ketut Sudarsana, S.Ag., M.Pd.H.

Teknologi Pendidikan

Dosen Pengampu : Dr. I Ketut Sudarsana, S.Ag., M.Pd.H.

Senin, 08 Mei 2017

STRATEGI-STRATEGI PENGAJARAN DENGAN MEMADUKAN TEKNOLOGI DAN MEDIA

STRATEGI-STRATEGI PENGAJARAN DENGAN MEMADUKAN TEKNOLOGI DAN MEDIA

 Diajukan untuk memenuhi Tugas Semester II
Mata Kuliah Kajian Teknologi Pendidikan
Dosen Pengampu: Dr. I Ketut Sudarsana, S.Ag., M.Pd.H

 Oleh:
 KOMANG AGUSTYANA PUTRA          15.1.2.5.2.0816
NI NYOMAN ARI LASTINI                      15.1.2.5.2.0817
I MADE GEDE ARY SUJAYA                 15.1.2.5.2.0818
I WAYAN ADE WIDIARTA                     15.1.2.5.2.0819
WAYAN SUMARKANDIA                                   15.1.2.5.2.0820

 

BAB I

PENDAHULUAN

 1.1 Latar Belakang
Arus globalisasi membawa efek yang sangat besar di berbagai kalangan manusia khususnya di dunia pendidikan. Perkembangan globalisasi berdampak pada teknologi yang membantu manusia untuk melakukan segala aktivitas, sehingga sebagian besar manusia yang sudah pernah menggunakan teknologi terpengaruh dan ketergantungan untuk memakai teknologi. Khususnya yang umum kelihatan adalah pengunaan handphone.
Seiring pekembangan, dunia pendidikan telah terpengaruh oleh teknologi. Para pendidik yang semakin modern sekarang memanfaatkan teknologi dalam proses pembelajaran. Pemanfaatan ini bertujuan untuk mempersiapkan pendidik untuk mengikuti pembelajaran. Melalui pemanfaatan teknologi pengajar atau guru pun dituntuk agar mampu menggunakan teknologi dengan menggabungkan teknologi dan media demi memenuhi kebutuhan peserta didik. Dengan pengabungan teknologi dan media akan menambah wawasan peserta didik.
Wawasan secara singkat didefinisikan, sebagai pengertian dasar mengenai, atau perasaan kepada, hubungan-hubungan yang terjadi. Wawasan umum dalam pengertian lain adalah suatu ketajaman yang dapat diterapkan seseorang kepada beberapa situasi/proses bahkan lebih banyak kepada peristiwa  yang sama, tetapi tidak perlu identik. Dengan wawasan peserta didik dapat menyadari pengertian dari persoalan (Sudjana, 1991:98).
Teknologi pembelajaran sebelumnya di pandang sebagai teknologi yang berkaitan dengan penggunaan peralatan, media dan sarana.  Namun, sekarang teknologi pembelajaran dipandang teori dan praktek dalam desain, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan, serta evaluasi tentang proses dan sumber untuk belajar. Di lapangan sudah banyak para pendidik menggunakan strategi dalam pengajaran dengan memadukan teknologi dan media. Namun terdapat pula beberapa guru yng masih menggunakan sistem cerama. Sehinggga pada tulisan ini akan dibahas mengenai strategi-strategi pendidikann dengan memadukan teknologi dan media.

1.2 Rumusan Masalah:

1.      Apa pengertian strategi pengajaran, teknologi dan media?
2.      Apa saja jenis strategi-strategi pengajaran dengan memadukan teknologi dan media?
3.      Bagaimana dampak pengajaran dengan memadukan teknologi dan media?

1.3 Tujuan

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
  1. Mengetahui pengertian strategi pengajaran, teknologi dan media
  2. Mengetahui jenis strategi-strategi pengajaran dengan memadukan teknologi dan media.
  3. Mengetahui dampak pengajaran dengan memadukan teknologi dan media.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Strategi Pengajaran, Teknologi Dan Media

2.1.1 Pengertian Strategi Pengajaran
            Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kata strategi berarti ilmu siasat perang, akal atau tipu muslihat untuk mencapai sesuatu maksud dan tujuan yang telah direncanakan(Tim Penyusun, 2009:809). Strategi yang diterapkan dalam dunia pendidikan, khususnya yang diterapkan dalam proses mengajar adalah suatu seni dan ilmu untuk membawa pengajaran di kelas sedemikian rupa sehingga tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dapat dicapai secara efektif dan efisien (Gulo, 2002:2).
Sedangkan pengajaran berarti proses, perbuatan, cara mengajar atau mengajarkan, prihal mengajar, segala sesuatu mengenai mengajar, peringatan (tentang pengalaman, peristiwa yang dialami atau dilihatnya) (Tim Penyusun, 2009:18).
            Strategi pengajaran adalah merencanakan cara pengajaran kepada anak didik sebelum melaksanakan pembelajaran di ruang kelas. Perencanaan ini dilakukan secara matang agar peserta didik mampu memperhatikan dan menyerap materi yang diberikan dengan proses pembelajaran yang menarik. Perencanaan cara-cara membawakan pengajaran agar segala prinsip dasar dapat terlaksana dan segala tujuan pengajaran dapat dicapai secara efektif.
 
2.1.2 Pengertian Teknologi
Menurut Anglin mendefinisikan teknologi sebagai penerapan ilmu-ilmu perilaku dan alam serta pengetahuan lain. Secara bersistem dengan sistem untuk memecahkan masalah. Selanjutnya menurut Tom Burns mengartikan teknologi sebagai kumpulan pengetahuan, tetapi pengetahuan itu dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu pengetahuan yang masih bersifat tradisional sebelum terjadinya industrialisasi dan pengetahuan yang telah bercorak modem dalam masyarakat industri untuk produksi berbagai barang dan jasa.
Teknologi merupakan cara melakukan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan manusia yang dibantu dengan alat dan akal sehingga dapat memperpanjang, memperkuat atau membuat lebih ampuh anggota tubuh, panca indra, dan otak manusia. Cara yang bersistem dengan sistem untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi oleh manusia.
Dalam bidang pendidikan, pemanfaatan teknologi informasi difokuskan pada peningkatan kualitas pembelajaran sehingga dapat meningkatkan kualitas pendidikan. Selain itu, teknologi informasi dapat dimanfaatkan dalam berbagai bidang seperti ekonomi, politik, sosial, dan lain-lain. Teknologi informasi pendidikan adalah ilmu pengetahuan dalam bidang informasi berbasis komputer yang digunakan dalam peningkatan kualitas pendidikan (Prasojo, 2011:5).
Selanjutnya Januszewski (dalam Arsyad, 2015:7) menjelaskan bahwa teknologi pendidikan atau pembelajaran adalah kajian dan praktik etis untuk menfasilitasi belajar dan memperbaiki kinerja dengan menciptakan, menggunakan, dan mengelola proses serta sumber-sumber teknologi yang sesuai.
Perkembangan selanjutnya teknologi pembelajaran merupakan suatu disiplin ilmu tersendiri yang bukan hanya terbatas pada media dalam bentuk peralatan fisik semata, melainkan merupakan kajian dan praktik etis dalam mendesain, mengembangkan, menggunakan, mengelola, dan mengevaluasi proses dan sumber teknologi yang sesuai untuk memfasilitasi belajar dan memperbaiki kinerja tenaga pendidik, peserta didik, dan organisasi kependidikan (Arsyad, 2015:7).
Dari beberapa pengertian di atas teknologi pendidikan didasarkan pada pemanfaatannya dalam bidang pendidikan. Teknologi pendidikan dapat diartikan sebagai ilmu pengetahuan yang memfokuskan tingkat pembelajaran dengan menggunakan media, teori dan sumber teknologi sebagai fasilitas dari proses pembelajaran, serta meningkatkan efektifitas pengajar, dan peserta didik.
2.1.3 Pengertian Media
            Kata media berasal dari bahasa Latin dan merupakan bentuk jamak dari kata medium yang secara harfiah berarti perantara atau penghantar. Metode adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan (Sadiman, 2010:6). Selanjutnya (Arsyad, 2003:4) media yang membawa pesan-pesan atau informasi yang bertujuan intruksional atau mengandung maksud-maksud pengajaran maka media itu disebut media pengajaran.
Media yang difungsikan sebagai sumber belajar bila dilihat dari pengertian harfiahnya juga terdapat manusia didalamnya, benda, ataupun segala sesuatu yang memungkinkan untuk anak didik memperoleh informasi dan pengetahuan yang berguna bagi anak didik dalam pembelajaran. Sasaran penggunaan media adalah agar anak didik mampu mencipatakan sesuatu yang baru dan mampu memanfaatkan sesuatu yang telah ada untuk dipergunakan dengan bentuk dan variasi lain yang berguna  dalam kehidupannya. Dengan demikian mereka dengan mudah mengerti dan mamahami materi pelajaran yang disampaikan oleh guru kepada mereka.
Dapat diartikan bahwa media merupakan sebuah perantara yang menghantarkan pesan atau materi kepada penerimanya. Sumber belajar yang baru dan mampu memanfaatkan sesuatu yang telah ada untuk dipergunakan dengan bentuk dan variasi lain yang berguna  dalam kehidupannya.
            Pengelompokan dari beberapa media telah dikelompokkan pula beberapa ahli, seperti Keep & Dayton (Arsyad, 2015:39) mengelompokan media ke dalam delapan jenis, yaitu: media cetak, media pajang, overhead tranparacies, rekaman audiotape, seri slide dan film strips, penyajian multi image, rekaman video dan film hidup, serta komputer.
            Media cetak meliputi materi yang telah disiapkan dalam bentuk tulisan di atas kertas digunakan untuk proses pengajaran dan informasi bagi anak-anak dikelas; Media pajang digunakan untuk menyampaikan pesan di kelas dengan sarana gambar yang ditempelkan pada papan. Siswa dapat melihat papan tulis utuk dapat mengikuti pembelajaran secara efektif.

2.2 Jenis Strategi-Strategi Pengajaran di Kelas dengan Memadukan Teknologi dan Media

Strategi pengajaran merupakan perpaduan dari urutan kegiatan, cara mengorganisasikan materi pelajaran peserta didik, peralatan dan bahan, dan waktu yang digunakan dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan (Deni, 2012:49).
Dalam menentukan strategi pengajaran dengan memadukan teknologi dalam pembelajaran tentunya mempertimbangkan berbagai faktor karena mengingat penggunaan teknologi yang berpengaruh memungkinkan kecepatan transformasi ilmu pengetahuan kepada peserta didik, generasi bangsa ini secara luas. Selain itu, akan mempengaruhi hasil belajar siswa, usia siswa dan juga kenyamanan menerapkan strategi yag digunakan. Maka bagi pendidik harus selektif pada pilihannya dan menggunakan berbagai pendekatan  yang membantu peserta didik untuk mencapai hasil belajar yang diharapkan. Jenis strategi-strategi pengajaran di kelas dengan memadukan teknologi dan media selama proses pembelajaran berlangsung, adapun jenisnya yaitu presentasi, demonstrasi, latihan dan praktik, tutorial, serta diskusi.
1. Presentasi
Dalam sebuah presentasi, sebuah sumber menyajikan atau menyebarkan informasi kepada pemelajar. Komunikasi dikendalikan oleh sumber dengan respons segera atau interaksi dengan pemelajar. Ketika guru menyajikan pembelajaran dengan presentasi, mereka akan memberikan pertanyaan-pertanyaan untuk para siswa atau para siswa yang bertanya ketika bahan pengajaran sedang disajikan. Karena itu maka akan timbul interaksi antara keduanya dan guru bisa memilih untuk mengendalikan interaksi di dalam presentasi. Sumber yang didapatkan bisa melalui buku, internet, video, rekaman audio dan lain sebagainya.
Presentasi tidak selalu harus berupa guru di depan kelas memberi pengajaran. Para siswa bisa melihat video yang memberikan informasi yang mereka butuhkan tentang topik, dan bisa meliputi tampilan yang menarik tentang bidang studi tersebut. Bisa mengarahkan audio kedalam teks untuk mengarahkan pembelajaran siswa. Guru bisa langsung mengarahkan siswa di dalam kelas, menggunakan sumber daya seperti papan putih untuk catatan, transparan OHP atau slide power point.
2. Demonstrasi
Dalam sebuah demonstrasi, para pemelajar melihat contoh nyata dari sebuah keterampilan atau prosedur untuk dipelajari. Demonstrasi mungkin direkam dan diputar ulang melalui sarana media seperti video. Jika ingin interaksi dua arah, diperlukan tutor yang hadir secara langsung.
Guru bisa menyiapkan video demonstrasi di depan kelas, guru juga bisa memanfaatkan benda aktual untuk demonstrasi. Seperti cara berwudhu, guru bisa menampilkan video ataupun seorang guru mempraktikan cara berwudhu terhadap siswa. 

3. Latihan dan praktik
Dalam latihan dan praktik, para pemelajar dibimbing melewati serangkaian latihan praktis yang dirancang untuk menyegarkan kembali atau meningkatkan penguasaan pengetahuan konten spesifik atau sebuah keterampilan baru.
Latihan dan praktik biasanya digunakan untuk mata pelajaran matematika, belajar bahasa ataupun untuk mengembangkan bahasa asing. Media dan sistem pengajaran biasanya bagus diterapkan untuk media latihan dan praktiknya. Seperti kaset audio, kartu flash, dan worksheet dapat digunakan secara efektif untuk latihan dan praktik, untuk pelajaran mengeja, aritmatika, dan bahasa.
4. Tutorial
Dalam tutorial, seorang tutor menyajikan konten, mengajukan pertanyan, meminta respons dari pemelajar, menganalisis respons tersebut, memberikan umpan balik, dan memberikan praktik hingga para pembelajar menunjukkan level dasar kompetensi.
Perbedaan antara tutorial dan latihan dan praktik adalah bahwa tutorial memperkenalkan dan mengajarkan materi baru, sementara latihan dan praktik fokus pada konten yang diajarkan dalam format lainnya. Para siswa seringkali bekerja mandiri atau satu lawan satu dengan seseorang saat mereka diberikan paket kumpulan kecil informasi yang dirancang untuk dibentuk menjadi sekumpulan pengetahuan dan praktik dengan umpan balik.
Guru dapat mempertimbangkan menggunakan teknologi dan media sebagai cara menyampaikan tutorial. Pelaksanaan tutorial meliputi instruktur ke pemelajar, pemelajar ke pemelajar (misalnya, pemberian tutorial dengan sesama rekan atau pusat belajar), komputer ke pemelajar (misalnya, peranti lunak tutorial yang dibantu komputer) dan cetakan ke pemelajar. Komputer secara khusus dibuat untuk menjalankan peran tutor karena kemampuannya menyampaikan menu respon yang kompleks terhadap berbagai masukan yang berbeda dari para siswa.
5. Diskusi
Diskusi adalah pertukaran gagasan dan opini diantara para siswa atau guru. Diskusi bisa digunakan dalam tahap pembelajaran dan pengajaran apapun, bisa dengan membagi kelompok kecil maupun kelompok besar. Strategi ini merupakan cara yang bermanfaat dalam mengukur pengetahuan, keterampilan, dan sikap dari sekelompok siswa sebelum mengakhiri tujuan pengajaran, terutama ketika memperkenalkan topik baru atau pada permulaan tahun ajaran baru ketika guru belum memahami para siswa.
Menampilkan sebuah video bisa memberikan pengalaman umum dan jika menampilkan isu yang tepat memberikan sesuatu untuk didiskusikan. Dengan mengarahkan diskusi menuju hasil-hasil belajar, mungkin bahwa para siswa akan menentukan sendiri kebutuhan untuk mempelajari lebih jauh tentang topik tersebut sebelum mereka bisa sepenuhnya berpartisipasi dalam sebuah diskusi.
2.3 Dampak Pengajaran dengan Memadukan Teknologi dan Media
            Pengajaran yang memadukan teknologi dan media banyak mendapatkan keuntungan pada saat proses pembelajaran khususnya pada mata pelajaran yang materinya padat. Dampak positif dari penggunaan strategi pengajaran dengan memadukan teknologi dan media dapat diuraikan sebagai berikut:
1.      Penyampaian pelajaran menjadi lebih baku. Setiap pelajar yang melihat atau mendengarkan penyajian melalui media menerima pesan yang sama. Penggunaan media pada proses pembelajaran akan lebih memperkecil kemungkinan perbedaan tafsiran isi pelajaran oleh para guru, sehingga informasi yang sama dapat disampaikan kepada siswa. 
2.      Pembelajaran bias lebih menarik. Media dapat diasosiasikan sebagai penarik perhatian dan membuat siswa tetap terjaga dan memperhatikan. Kejelasan dan keruntutan pesan, daya tarik image yang berubah-rubah, penggunaan efek khusus yang dapat menimbulkan keingintahuan menyebabkan siswa siswa tertawa dan berpikir, yang kesemuanya menunjukkan bahwa media memiliki aspek motivasi dan meningkatkan minat.
3.      Pelajaran menjadi lebih interaktif dengan diterafkan teori belajar dan perinsip-prinsip psikologis yang diterima dalam hal partisipasi siswa, umpan balik dan penguatan.
4.      Lama waktu pembelajaran dapat disingkat karena kebanyakan media hanya memerlukan waktu singkat untuk menyampaikan materi-materi yang cukup banyak dan kemungkinannya dapat diserap oleh siswa.
5.      Kualitas hasil belajar dapat ditingkatkan bila perpaduan antara kata da gambar sebagai media pembelajaran dapat mengkomunikasikan elemen-elemen pengetahuan dengan cara yang terorganisasi dengan baik, spesifik, dan jelas.
6.      Pembelajaran dapat diberikan kapan dan di mana diinginkan atau diperlukan terutama jika media pembelajaran dirancang untuk penggunaan secara individu.
7.      Sikap positif siswa terhadap apa yang mereka pelajari  dan terhadap proses pembelajaran dapat ditingkatkan.
8.      Peran guru dapat berubah kea arah yang positif, beban guru dalam menjelaskan secara berulang-ulang dapat dikurangi. Sehingga guru dapat memusatkan perhatian siswa untuk membimbing siswa (Arsyad, 2015:25-27).

Selanjutnya dijelaskan pula manfaat media dan teknomogi dalam proses pembelajaran sebagai berikut:
1.       Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalistis ( dalam bentuk      kata   kata )
2.      Mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan daya inderawi, seperti objek yang terlalu besar, objek yang kecil, gerak yang terlalu lambat atau terlalu cepat, kejadian yang terjadi di masa lalu, objek yang terlalu kompleks, atau konsep yang terlalu luas.
3.      Mengatasi sikap pasif anak didik dengan penggunaan media yang tepat dan bervariasi.
4.      Memberikan perangsangan yang sama, mempersamakan pengalaman,    menimbulkan  persepsi yang sama diantara anak didik, karena perbedaan latar belakang guru dan siswa yang berbeda mengakibatkan sulitnya menyamakan persepsi anak didik mengenai suatu konsep jika tidak menggunakan media pendidikan.
5.      Membangkitakan ide-ide atau gagasan-gagasan yang bersifat konseptual, sehingga mengurang kesalahpahaman siswa dalam mempelajarinya.
6.      Meningkatkan minat siswa untuk materi pelajaran.
7.      Memberikan pengalaman-pengalaman nyata yang merangsang aktivitas diri sendiri untuk belajar.
8.      Dapat mengembangkan jalan pikiran yang berkelanjutan.
9.      Menyediakan pengalaman-pengalaman yang tidak mudah didapat melalui materi-materi yang lain dan menjadikan proses belajar mendalam dan beragam.
10.  Penyampaian pelajaran menjadi lebih baku. Setiap pelajar yang melihat atau mendengar penyajian melalui media menerima pesan yang sama.
11.  engajaran bisa lebih menarik. Media dapat diasosiasikan sebagai penarik perhatian dan membuat siswa tetap terjaga dan memperhatikan.
12.  Pembelajaran menjadi lebih interaktif dengan diterapkannya teori belajar dan prinsip-prinsip psikologis yang diterima dalam hal partisipasi siswa, umpan balik, dan penguatan.
13.  Lama waktu pengajaran yang diperlukan dapat dipersingkat untuk mengantarkan pesan-pesan dan isi pelajaran dalam jumlah yang cukup banyak dan kemungkinannya dapat diserap oleh siswa.
14.  Kualitas hasil belajar dapat ditingkatkan
15.  Pengajaran dapat diberikan kapan dan dimana diinginkan.
16.  Sikap positif siswa terhadap apa yang mereka pelajari dan terhadap proses belajar dapat ditingkatkan.
17.  Peran guru dapat berubah kearah yang lebih positif,dalam proses belajar mengajar.
Dampak teknologi dan media dalam pengajaran sangat berpengaruh terhadap siswa, melalui strategi ini akan memberikan pengalaman baru kepada siswa dengan konsep yang masih bersifat abstrak, menambah motivasi belajar, menambah semangat belajar, dan mempertinggi daya serap belajar.

 

BAB III

PENUTUP


3.1 Kesimpulan
Strategi pengajaran dengan memadukan teknologi dan media dalam  merencanakan cara pengajaran kepada anak didik sebelum melaksanakan pembelajaran dengan materi yang memfokuskan tingkat pembelajaran dengan menggunakan media, teori dan sumber teknologi sebagai fasilitas dari proses pembelajaran, serta meningkatkan efektifitas pengajar, dan peserta didik.
Jenis strategi-strategi pengajaran di kelas dengan memadukan teknologi dan media selama proses pembelajaran berlangsung, adapun jenisnya yaitu presentasi, demonstrasi, latihan dan praktik, tutorial, serta diskusi.
Dampak teknologi dan media dalam pengajaran sangat berpengaruh terhadap siswa, melalui strategi ini akan memberikan pengalaman baru kepada siswa dengan konsep yang masih bersifat abstrak, menambah motivasi belajar, menambah semangat belajar, dan mempertinggi daya serap belajar.
3.2 Saran
Berdasarkan simpulan di atas, dapat disarankan beberapa hal sebagai berikut:
  1. Kepada pendidik diharapkan agar memanfaatkan pengajaran dengan memadukan teknologi dan media.
  2. Kepada mahasiswa pendidikan agar mempelajari lebih jauh tentang pengajaran dengan memadukan teknologi dan media.

DAFTAR PUSTAKA

 Arsyad, Azhar. dkk. 2003. Media Pembelajaran. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Arsyad, Azhar. dkk. 2015. Media Pembelajaran (cetakan ke-15). Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Deni, Darmawan. Teknologi Pembelajaran. 2012. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Gulo, W. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana.
http://ictcommunity.multiply.com/journal/item/17/, (diakses tanggal 12 Maret 2016, jam 09.50 Wita).
Prasojo, Lantip Diat. Riyanto. 2011. Teknologi Informasi Pendidikan. Yogyakarta: Gava Media.
Sadiman, Arief S. 2010. Media Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Sudarsana, I. K. (2014). PENGEMBANGAN MODEL PELATIHAN UPAKARA BERBASIS NILAI PENDIDIKAN AGAMA HINDU UNTUK MENINGKATKAN PERILAKU KEWIRAUSAHAAN: Studi pada Remaja Putus Sekolah di Kelurahan Peguyangan Kota Denpasar.
Sudarsana, I. K. (2015). PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH DALAM UPAYA PEMBANGUNAN SUMBER DAYA MANUSIA. Jurnal Penjaminan Mutu, (Volume 1 Nomor 1 Pebruari 2015), 1-14.
Sudarsana, I. K. (2016). DEVELOPMENT MODEL OF PASRAMAN KILAT LEARNING TO IMPROVE THE SPIRITUAL VALUES OF HINDU YOUTH. Jurnal Ilmiah Peuradeun, 4(2), 217-230.
Sudarsana, I. K. (2016). PEMIKIRAN TOKOH PENDIDIKAN DALAM BUKU LIFELONG LEARNING: POLICIES, PRACTICES, AND PROGRAMS (Perspektif Peningkatan Mutu Pendidikan di Indonesia). Jurnal Penjaminan Mutu, (2016), 44-53.
Sudjana, Nana. 1991. Teori-Teori Belajar untuk Pengajaran. Jakarta: Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia
Tim Penyusun. 2009. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Pustaka Phoenix.

TREN TEKNOLOGI DAN MEDIA DALAM PEMBELAJARAN

TREN TEKNOLOGI DAN MEDIA DALAM PEMBELAJARAN

Tugas : Mata Kuliah Teknologi Pendidikan
Dosen  : Dr. I Ketut Sudarsana, S.Ag., M.Pd.H.

OLEH :
I GUSTI AGUNG PUTU WAHYU PRADNYANA (15.1.2.5.2.0839)
NI WAYAN KEMALAYANTI (15.1.2.5.2.0841)
NI PUTU DIAH DIRMAYUDANI PUTRI (15.1.2.5.2.0847)
GUSTI AYU SRI UTAMI (15.1.2.5.2.0859)
GUSTI AYU MIRAH MAHARDANI (15.1.2.5.2.0860)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG
           Revolusi ilmu pengetahuan dan teknologi, perubahan masyarakat, pemahaman cara belajar anak, kemajuan media komunikasi dan informasi serta lain sebagainya memberi arti tersendiri bagi kegiatan pendidikan. Tantangan tersebut menjadi salah satu dasar pentingnya pendekatan teknologis dlam pengelolaan pendidikan dan pembelajaran (Yudhi Munadi, 2013 : 1).
                 Pentingnya pendekatan teknologis dalam pengelolaan tersebut dimaksudkan agar dapat membantu proses pendidikan dalam pencapaian tujuan pendidikan yaitu al-insan al-kamil. Di samping itu, pendidikan sebagai bagian dari kebudayaan merupakan sarana penerus nilai-nilai dan gagasan-gagasan sehingga setiap orang mampu berperan serta dalam transformasi nilai demi kemajuan bangsa dan negara. Oleh karena itu, untuk mewujudkan pendidikan yang berkualitas, salah satu yang harus ada adalah guru yang berkualitas. Guru yang berkualitas ini adalah guru yang memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional, yakni yang memiliki kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional (UU RI No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen).
                 Misalnya, dalam melaksanakan kompetensi pedagogik, guru ditunntut memiliki kemampuan secara metodologis dalam hal perancangan dan pelaksanaan pembelajaran. Termasuk di dalamnya penguasaan dalam penggunaan media pembelajaran.
                 Penggunaan media atau alat bantu disadari oleh banyak praktisi pendidikan sangat membantu aktivitas proses pembelajaran baik di dalam maupun di luar kelas, terutama membantu peningkatan prestasi belajar siswa. Namun, dalam implementasinya tidak banyak guru yang memanfaatkannya, bahkan penggunaan metode ceramah (lecture method) monoton masih cukup populer di kalangan guru dalam proses pembelajarannya.
                 Keterbatasan media pembelajaran di satu pihak dan lemahnya kemampuan guru menciptakan media tersebut di pihak lain membuat penerapan metode ceramah semakin menjamur. Kondisi ini jauh dari menguntungkan. Terbatasnya alat-alat teknologi pembelajaran yang dipakai di kelas diduga merupakan salah satu sebab lemahnya mutu pendidikan pada umumnya. Hal ini terlebih sangat dirasakan pada mata pelajaran keagamaan. Pemanfaatan media dalam proses pembelajaran di bidang keagamaan dapat dikatakan belum optimal. Demikian daripada  itu, lebih dirasakan bila dikaitkan dengan perkembangan ilmu pengetahuan di bidang teknologi informasi dan komunikasi (Yudhi Munadi, 2013 : 2).
                 Dunia pendidikan dewasa memasuki era dunia media, di mana kegiatan pembelajaran menuntut dikuranginya metode ceramah dan diganti dengan pemakaian banyak media.Lebih-lebih pada kegiatan pembelajaran saat ini yang menekankan pada keterampilan proses dan active learning, maka kiranya peranan media pembelajaran, menjadi semakin penting.

2. RUMUSAN MASALAH
            Berdasarkan latar belakang tersebut maka dapat dirumuskan masalah yaitu sebagai berikut  :
1.      Bagimanakah Tren Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Perkembangan Pendidikan?
2.      Bagaimanakah Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk Dunia Pendidikan?
3.      Bagimanakah Rangkaian Kesatuan Ruang Kelas dari Tradisonal ke Digital?

 1.3. TUJUAN PENULISAN
            Penulisan ini memiliki beberapa tujuan yaitu sebagai berikut :
1.      Untuk mengetahui bagaimanakah tren Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Perkembangan Pendidikan.
2.      Untuk mengetahui bagaimanakah Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk Dunia Pendidikan.
3.      Untuk mengetahui bagimanakah Rangkaian Kesatuan Ruang Kelas dari Tradisonal ke Digital.


BAB II
PEMBAHASAN

2.1.      Tren Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Perkembangan Pendidikan
Penggunaan teknologi informasi (TIK) dalam pendidikan adalah fenomena yang relatif baru. Pendidik,peneliti dan pemikir telah mengambil tantangan menggunakan TIK sejak tahun 1980-an dengan sukses yang bervariasi. Munculnya internet dan world wide web telah menekan produktivitas baru dan tuntunan pelayanan serta harapan pada upaya ini meskipun penelitian untuk memandu praktek terbaik tetap sedikit dan sulit dipahami. Diskusi ini tentang tren yang terjadi pada TIK dalam pendidikan dan penelitian dimulai dengan sejarah singkat. Sejarah singkat TIK menimbulkan sejumlah masalah yang menyediakan pilihan untuk berpikir tentang masa depan dan jalur TIK dapat diambil dalam konteks pendidikan.
Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk pendidikan dapat dilaksanakan dalam berbagai bentuk sesuai dengan fungsinya dalam pendidikan. Fungsi TIK dalam pendidikan sudah menjadi suatu keharusan yang tidak dapat ditunda-tunda lagi. Berbagai aplikasi teknologi informasi dan komunikasi sudah tersedia dalam masyarakat dan sudah siap menanti untuk digunakan secara optimal untuk kepentingan pendidikan.

2.2.      Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk Dunia Pendidikan
Ada beberapa tren yang berkembang dalam pemanfaatan TIK pada khususnya dalam konteks sekolah tentunya dengan memperhatikan ketersediaan dan kemudahan akses sumber belajar online. Berikut ini adalah tren yang berkembang sebagaimana disarikan dari artikel Newertechnologie for the learning society (C. Villanueva, 2000).
1.      Secara umum, pengintegrasian secara penuh TIK kedalam pendidikan masih sangat terbatas. Multimedia interaktif atau hyper media belumlah dimanfaatkan secara meluas. Aktivitas online melibatkan internet dan internet lebih banyak digunakan untuk keperluan komunikasi daripada sarana pendidikan interaktif.
2.      Model pembelajaran campuran yang baru muncul. Pembelajaran tatap muka dan aktivitas belajar online,video, multimedia dan sarana telekomunikasi menunjang berbagai proses pembelajaran, kadangkala dalam bentuk kombinasi dan kadangkala dalam bentuk yang lebih terintergrasi.
3.      Pendidikan jarak jauh sekarang disajikan dalam dua cara yaitu synchronous mode dimana peserta menggunakan TIK untuk berkomunikasi pada waktu yang bersamaan dan asynchronous kapan saja mereka online. Dalam kenyataannya pertemuan tatap muka atau interaksi masih diperlukan untuk menunjang belajar mandiri dan asynchronous agar belajar lebih efektif. TIK memfasilitasi interaksi tingkat tinggi antara guru, siswa, dan pembelajaran berbasis komputer, ia dapat terjadi dalam berbagai bentuk seperti mail, mailing, list, chat, bulletin board, dan konfrensi komputer.
4.      TIK sudah menjadi suatu daya perangkat perubahan dalam bidang pendidikan dan mereka adalah suatu bagian integratif dari kebijakan dan rencana pendidikan nasional. Bukti yang berkembang menunjukkan semakin banyak negara yang mulai melengkapai sekolah mereka dengan komputer untuk mencapai informasi sekolah atau usaha peningkatan sekolah atau bahkan untuk memberi sekolah mereka suatu penampilan berteknologi, bagaimanapun dalam posisi ini banyak pendidik yang melihat teknologi online sebagai suatu jalan untuk pengajaran, pelajaran, dan praktek penguasaan baru, hanya mempunyai sedikit informasi tentang potensi dan penggunaan autentik dari TIKdalam pendidikan.
5.      Pengenalan TIK disekolah telah membawa suatu sikap yang lebih positif terhadap sekolah pada diri siswa. Karena TIK dan belajar berbasis web menawarkan keanekaragaman yang lebih besar dari tujuan,proyek,aktivitas dan latihan pembelajaran dibanding kelas tradisional, minat dan motivasi siswapun meningkat secara nyata. Para guru dan siswa terangsang karena pengajaran menjadi lebih dinamis yang memperluas visi mereka seperti halnya akses ke bahan belajar dan perangkat lunak bidang yang bermutu tinggi, lebih dari itu para guru kelihatannya termotifasi untuk mengajar dengan lebih kreatif.
6.      Kelas online cenderunguntuk menjadi lebih sukses jika TIK dikombinasikan dengan suatu ilmu pendidikan yang tepat. Gelanggang pendidikan dari pembelajaran online masih sangat muda.saat banyak institusi yang menawarkan kursus online, pemahaman mendalam tentang isu pEdagogis yang berhubungan dengan pendidikan online masih belum diselidiki secara mendalam, banyak kursus online yang hanya halaman web dikomendasikan dengan E-mail dengan ruangan chatting tanpa landasan padagogis. Pengalaman-pengalaman sukses menunjukkan bahwa telah ada suatu penurunan dari aktivitas dipandu guru seperti halnya penurunan jumlah pembelajaran tatap muka dan bergerak kearah aktivitas yang berbentuk proyek dan pembelajaran mandiri sebagi hasil pemanfaatan TIK.
7.      Pembelajaran online memungkinkan siswa mempunyai kendali lebih besar terhadap kegiatan dan isi pembelajaran. Lingkungan online menempatkan siswa ditengah-tengah pengalaman belajar pada pembelajaran tradisional, pengulangan digunakan berkali-kali dengan memperkenalkan informasi yang sangat serupa dalam format berbeda atau dengan menanyakan pertanyaan yang sama dengan cara yang berbeda. Padahal banyak siswa tidak suka latihan yang berulang-ulang internet mendorong siswa untuk menggali informasi dan contoh praktis. Internet mempromosikan suatu alternatif jenis belajar dengan melakukan (learning by doing) dimana para siswa diminta untuk melakukan proyek yang berhubungan dengan situasi hidup nyata teknologi menyampaikan informasi dengan penekanan pada penciptaan dan eksplorasi aktif terhadap pengetahuan dibandingkan transfer informasi searah yang memungkinkan siswa tersebut untuk menggunakan secara penuh kemampuan kognitif mereka sendiri.
8.      Corak interaktif sumber belajar memungkinkan siswa untuk terus meningkatkan keterlibatannya dengan pengembangan isi dan dengan demikian berperan dalam suatu situasi belajar yang lebih autentik. Sebagai contoh para siswa dapat mengakses perpustakaan maya diseluruh dunia. Dengan demikian mereka mempunyai akses ke sejumlah besar informasi dan sumber belajar yang luas yang tidak dapat dicapai dalam seting pembelajaran yang tunggal. Sejauh yang terkait dengan guru, sebagian besar sumber belajar yang diletakkan diinternet telah membantu guru dalam menghadapi tantangan mengajar sehari-hari. Para guru saling bertukar rencangan pembelajaran, teknik padagogis, dan strategi yang berhubungan dengan isu-isu dan permasalahan umum.
9.      Pembelajaran online menyediakan perkakas teknik yang membuat belajar lebih mudah. Sebagai contoh, bahasa yang digunakan untuk mencari informasi dan bahan belajar adalah segera dan intuitif. Bahasa tersebut tidaklah harus dipelajari oleh pemakai dan dapat diadopsi dengan usaha minimal. Tata bahasa dan sintaksis dasar dapat digunakan sebagai instrumen untuk mencari dan memperoleh informasi.
10.  Pendidikan dan pelatihan guru sekarangmeliputi pembelajaran kolaboratif dan just-intime. TIK membuka suatu dunia yang utuh dari belajar sepanjang hayat melalui pendidikan jarak jauh, pembelajaran asynchronous, dan pelatihan atas permintaan. TIK cukup fleksibel untuk memperkenalkan kursus baru sebagai jawaban langsung atas permintaan yang semakin meningkat.
11.  TIK membantu memecahkan isolasi profesional yang banyak diderita para guru. Dengan TIK mereka dapat dengan mudah berhubungan dengan para profesional lain, rekan kerja, penasehat, universitas, dan pusat keahlian, dan dengan sumber bpelajar. Para guru kini menerbitkan bahan belajar yang mereka kembangkan di internet dan berbagai pengalaman mengajar mereka dengan guru lainnya.
12.  Penggunaan jaringan komputer untuk mempromosikan aktivitas belajar berkelompok menjadi semakin lebih populer. Teknologi komputer dalam pendidikan bergerak dari belajar mandiri ke metode belajar jarak jauh berkelompok. Dengan menggunakan perangkat komunikasi berbasiskomputer dan berkelompok dengan menggunakan perangkat komunikasi berbasis komputer dan kelompok belajar berbasis web, siswa dapat menerapkan pengetahuan yang dimilikinya dengan mengkombinasikan usaha mereka untuk mengembangkan suatuaktivitas atas proyek. Belajar koperatif melalui komputer mempunyai efek positif atas kinerja tugas kelompok, prestasi individu, dan sikap terhadap belajar kolaboratif.
13.  Universitas sedang memasuki fase kemitraan dengan sektor swasta, terutama sekali industry teknologi informasi, dalam rangka membantu menjaga kelangsungan hidup oprasi dan keuangan dari program pendidikan berbasis TIK. Semakin banyak sekolah menyadari bahwa berhubungan dengan sektor bisnis tidak akan mengancam sistem persekolahan. Yang melihat suatu keuntungan dalam capitalising atas produk dan jasa pendidikan mereka. Persekutuan belajar dipenyampaian produk dapat menawarkan berbagai manfaat seperti, pengurangan biaya-biaya pengembangan latihan, berbagai biaya-biaya penelitian, dan pengembangan yang bersama, atau berbagai database dan isi perpustakaan.
14.  TIK meningkatkan fungsi perpustakaan dan mengubah peran pustakawan secara hakiki. Sekolah tidak perlu melanjutkan penderitaan atas kelangkaan pendukung perpustakaan dengan memanfaatkan sumber belajar yang kaya yang tersedia diinternet.



2.3.      Rangkaian Kesatuan Ruang Kelas: Tradisional ke Digital
Pembahasan dalam media pendidikan yang telah ditinjau menghasilkan seperti sebuah keputusan bahwa agar lebih baiknya dalam memenuhi kebutuhan siswa terjadi kecenderungan bagi guru untuk mengubah metode dan perangkat pembelajaran tradisional ke pendekatan digital. Namun, transisi dari lingkungan ruang kelas tradisonal ke ruang kelas digital sangat bervariasi antara guru satu dengan lainnya dan juga antara sekolah dengan sekolah lainnya. Marc Prensky (2006) menjelaskan variasi ini dalam proses empat tahap adopsi dan adaptasi teknologi :
a.       Mencoba-coba
Proses yang dimulai dengan mencoba-coba teknologi secara acak dengan menambahkan perangkat teknologi ke beberapa ruang kelas saja atau perpustakaan.
b.      Melakukan hal-hal lama dengan cara-cara lama
Dilakukan dengan cara guru menampilkan ceramah dalam bentuk PowerPoint ketimbang menggunakan transparan OHP
c.       Melakukan hal-hal lama dengan cara-cara baru
Seperti guru yang menggunakan model 3D untuk memperlihatkan struktur sebuah senyawa ketimbang menggambarkannya di papan tulis, atau siswa yang menggunakan pengolah kata dan clip art ketimbang kertas buku catatan dan gambar buatan tangan untuk membuat sebuah cerita pendek.
d.      Melakukan hal-hal baru dengan cara-cara baru
Tahap adopsi dan adapatasi terakhir ini sepenuhnya menggunakan kekuatan teknologi dan media, tetapi mengharuskan menyediakan para siswa dengan konten yang berorientasi masa depan untuk mengembangkan kemampuan mereka dalam konektivitas mereka. Dengan penggunaan teknologi satu lawan satu.
Saat ini, hampir semua ruang kelas telah mencapai tahap empat dengan mengadopsi dan mengadaptasikan lingkungan yang ada dengan alat digital yang mendukung dan meningkatkan kemampuan guru dan siswa digital.

A.           Guru Digital
Alat-alat digital memperluas dan meningkatkan kemampuan guru untuk memenuhi sejumlah peran dan tanggung jawab yang terkait dengan menjadi seorang pendidik. Perangkat ini memungkinkan guru "digital" untuk merencanakan dan menyediakan pengajaran interaktif dan turut serta dalam komunitas praktik global dengan sesama pendidik dengan cara yang lebih baik.
a.       Pembelajaran interaktif
Pembelajaran guru digital melibatkan presentasi yang kaya media dan interaktif. Konferensi video digital secara langsung bisa menghadirkan sejarahwan, novelis, dan ahli konten ke dalam ruang kelas. Catatan dan peta konsep dari sesi brainstroming diperoleh pada papan putih elektronik dan langsung dikirimkan ke pada siswa melalui e mail. Presentasi pengajaran perlahan-lahan memadukan streaming video digital dan audio dari berkas berbasis internet mulai dari klip pendek yang memperlihatkan konsep spesifik hingga dokumenter berdurasi lama. Guru bisa langsung menuju bagian spesifik dari sebuah segmen dalam gerak lambat atau cepat atau dalam gerak lambat untuk memperkuat hasil-hasl siswa.
b.      Sistem respon personal (PRS)
Digunakan oleh guru digital untuk mengumpulkan dan secara grafis menampilkan jawaban siswa terhadap pertanyaan siswa. Setiap perangkat diberikan kepada siswa yang ditunjuk, sehingga mememungkinkan guru mengetahui bagaimana setiap siswa merespon.  Penggunaan dalam pendidikan meliputi: menilai pemahaman siswa mengenai konsep, membandingkan sikap siswa mengenai gagasan yang berbeda, memprediksi situasi serta latihan dan praktek dari kemampuan dasar. Sistem ini menggrafikkan serpon siswa untuk memberikan umpan balik segera kepada guru dan siswa, yang bisa digunakan untuk memandu kecepatan dan arah sebuah diskusi.
c.       Perangkat penilaian bergerak
Perangkat digital pegangan tangan digunakan untuk merekam data penilaian dari kemampuan siswa seperti rekaman terus menerus dari kemampuan membaca siswa SD atau data penampilan siswa yang direkam dari mengamati presentasi siswa, percobaan lab atau tulisan tangan.
d.      Komunitas
Guru digital itu harus turut serta dalam komunikasi praktik yang merupakan sekelompok pendidik dari penjuru negeri dan seluruh dunia yang memiliki tujuan yang samadan berbagi gagasan dan sumber daya. Interaksi yang berbasis internet ini menyediakan kesempatan bagi guru untuk berkolaborasi dan bertukar gagasan dan material. Komunitas praktik bisa berupa pendidik yang mengajar area mata pelajaran dan tingakat kelas yang sama atau para pendidik dengan minat yang sama.

B.            Siswa Digital
Siswa "digital" belajar di ruang kelas di mana teknologi merupakan komponen tetap dan pembelajaran yang memperluas lingkungan pendidikan melampaui dinding ruang kelas dan melampaui kemampuan pembelajar yang ada saat ini.
1)      Perangkat Interaktif. Siswa digital menggunakan perangkat nirkabel bergerak dalam berbagai cara dan lokasi dan di luar situasi sekolah dengan membawa teknologi ke tempat di mana teknologi itu dibutuhkan. Sebagai misal, para siswa duduk di karpet membaca untuk menemukan sumber daya internet di komputer lap­top nirkabel. Para siswa membawa asisten data personal (PDA), atau komputer pegangan tangan, ke perpustakaan untuk mengambil catatan dari arsip artikel koran komunitas. Siswa yang berpasangan menggunakan kamera digital untuk mengambil contoh-contoh simetri yang ada di kampus sekolah. Siswa SD menggunakan pemantau digital untuk merekam nilai pH dari enam jenis tanah yang digunakan untuk menanam lobak. Seorang siswa SMU dengan hambatan membaca mendengar MP3, atau berkas audio terkompresi, dari Inventing Sherlock Holmes karya Michael Chabon. Perangkat nirkabel memperluas dan menambahi pengalaman belajar melampaui kemampuan nondigital.
2)      Berinteraksi dengan Orang Lain. Belum pernah sebelumnya para siswa terhubung satu sama lain seperti halnya mereka saat ini dalam lingkungan digital nirkabel. Telepon, PDA, dan laptop digunakan untuk mengirimkan suara, teks, dan pesan beranimasi; untuk mendengar musik, berita, dan olahraga; dan untuk menonton video musik dan pra tayang film terbaru. Para siswa berkomunikasi dengan perangkat digital mereka dengan perintah suara, dengan ca­tatan tulisan tangan, atau dengan menggunakan papan tombol mini atau yang tertera di layar. Dokumen dengan suntingan dan komentar yang secara digital disertakan bisa langsung dipertukarkan antara siswa dan guru mereka, diantara sesama siswa, dan para ahli. Komunitas belajar siswa meluas di seluruh dunia melalui alat komunikasi interaktif berbasis web seperti blog (jurnal pribadi yang bisa diakses secara publik), wiki (informasi web yang bisa disunting oleh pengguna anggota), danpodcast (berkas multimedia yang disebar lewat internet yang diformat untuk pengunduhan langsung ke perangkat bergerak). Sebagai misal, para siswa membuat sebuah blog mengenai pemanasan global yang dengannya mereka selalu bertukar komentar dan hiperlinks dengan siswa yang ada di seluruh dunia. Siswa sekolah menengah menggunakan wiki untuk berinteraksi dengan siswa perguruan tinggi yang merespons kegiatan menulis mereka, sementara. kelas sejarah SMU mengunggah podcast berupa wawancara dengan para veteran Perang Dunia II ke situs web kelas mereka.
Perangkat digital interaktif terus menjadi populer seperti yang terlihat di Technorati.com yang memperlihatkan bahwa pada Maret 2007, terdapat 71,1 juta blog di internet. Wikipedia pun sama populernya dalam hal lebih dari satu juta entri tersedia dalam lebih dari 200 bahasa pada Maret 2006. Yang menarik, hanya terdapat: 120.000 entri dalam Encyclopedia Britannica selama kurun waktu yang sama (Lorenzo, Oblinger, & Dziuban, 2006).

C.           Peran yang Berubah-ubah dari Pusat Media
Material untuk pembelajaran seumur hidup terus tersedia melalui perpustakaan, pusat informasi, dan secara online. Spesialis media sekolah harus memikirkan tidak hanya dalam hal pengaturan di rak dan peredarannya, tetapi juga dalam hal mengunduh dan mengunggah secara elektronik menerima, menyimpan, menyusun indeks dan menyebarkan informasi ke para guru, siswa, ruang kelas, dan rumah. teknologi interaktif menciptakan generasi baru guru dan siswa yang menjadi tidak hanya pengguna mate­rial seperti itu, tetapi juga pencipta.
Pusat media sekolah sekarang memiliki berbagai teknologi. Kecenderungannya adalah menuju situasi lebih berteknologi, termasuk berlangganan ke sumber daya online, seperti Discovery Education dan Sajari Montage dan pemanfaatan sumber daya gratis seperti PBS Frontline Online. Di banyak sekolah, pusat media bermunculan sebagai pusat teknologi. Dengan akses ke dunia melalui internet dan teknologi lainnya, pusat media sekolah menjadi perpustakaan tanpa dinding.

D.           Pilihan Pendidikan Jarak Jauh
Pelajar di masa mendatang akan memiliki banyak kesempatan untuk melakukan pendidikan jarak jauh melalui pembelajaran online. Melalui pembelajaran online dapat membantu menjembatani kesenjangan jarak, kemiskininan dan penawaran kursus terbatas di sekolah-sekolah.
E.            Teknologi Untuk Penyetaraan/ Inklusi
Depertemen Pendidikan Amerika Serikat mengamanahkan agar siswa dengan ketidakmampuan harus diajari dengan standar yang sama seperti siswa yang tanpa ketidakmpuan. Dan inovasi dari teknologi memiliki kemampuan untuk membantu siswa yang berkebutuhan khusus tersebut, baik yang memiliki ketidakmampuan belajar jasmani serta siswa berbakat. Karena dengan terknologi baru dapat meningkatkan kemampuan guru untuk mengapdatasikan ruang kelas unruk mengakomonasi siswa yangberkebutuhan khusus.

F.            Teknologi Menghubungkan Sekolah Dan Rumah
Semakin populer kehadiran teknologi dalam rumah tangga, menjadikan guru memiliki kesempatan untuk berkomunikasi dengan siswa dan orang tua siswa. Jadi dengan adanya komunikasi antara pihak sekolah dengan rumah siswa sangat memungkinkan untuk memperpanjang periode waktu belajar. Teknologi memungkinkan guru untuk mengirimkan PR dan tugas melalui jaringan-jaringan ke rumah atau orang tua siswa.

G.           Status Kesenjangan Teknologi
Kesenjangan teknologi saat kini telah menyempit. Selain harga perangkat yang murag, sekolah saat kini telah memberikan solusi bagi siswa yang tidak memiliki akses komputer di rumah melalui kesempatan lebih besar menggunakan komputer dan internet di ruang kelas. Selain itu, pusat komunitas dan perpustakaan menawarkan akses gratis ke computer.

H.           Ruang Kelas Global
Melalui penggunaan sistem satelit yang kompleks, dunia kita terhubung dengan jaringan digital tak terlihat yang Benar-benar membnat ruang kelas saat ini menjadi global. Siswa sekarang belajar dari berbagai rupa sumber daya mulai dari buku cetak hingga konferensi video langsung dengan orang-orang yang secara geografis terpisah ribuan mil. Para guru menggunakan sumber daya seperti ePals Global Network yang memiliki lebih dari 18.000 kelas dari sekitar 200 negara yang turut serta dalam kegiatan belajar lintas budaya. Para guru bisa merencanakan mata pelajaran dengan dengan satu atau dua guna atau melibatkan siswa mereka dalamsalah satu dari banyak proyek penelitian interaktif besar yang melibatkan anak-anak di seluruh dunia. Proyek sampel meliputi Healthy Wetland, The Way We Are, "Traditional Mythology, dan Currency, Money, and the barter System.
Dunia juga terbuka bagi siswa melalui streaming video secara langsung yang mulai diputar sebelum berkas seluruhnya diunduh dari web. Siswa bisa melihat bidikan secara langsung dari Kutub Selatan. Jalanan di kota Wina, pelestarian permainan Kenya, Menara Eiffel, Hutan Bavaria, Gunung Fuji, sebuah katedral di Florence, pasar kota di Hong Kong, atau laboratorium peneli­tian Olivetti di Cambridge.
Banyak dari situs-situs tersebut memiliki kontrol pengguna di kamera sehingga siswa bisa secara bebas menelusuri tempat-tempat jauh dari berbagai sudut pandang. Mengunjungi negara-negara yang berbeda melalui video bisa meningkatkan kesadaran siswa mengenai perbedaan dalam waktu karena, sebagai misal, video mungkin menampilkan matahari yang terbit ketika saat itu adalah petang dalam ruang kelas siswa. Menayangkan dunia “saat terjadinya" membuka mata siswa terhadap perbedaan dan persamaan yang ada dalam budaya dunia ketika para siswa melihat apa yang orang-orang kenakan, kendarai, makan, dan lakukan.


I.       INOVASI PADA HORIZON
1)      KOMPUTASI BERGERAK
a.       Pena digital
Pena digital mentransfer tulisan menjadi teks, berbicara kepada kita, menjalankan musik dan games
b.      Laptop
Dalam rangka mengurangi kesenjangan terknologi di seluruh dunia, para ahli memproduksi laptop murah. Biaya komputer murah berkurang karena menggunakan sistem operasi yang disederhanakan, tidak menggunakan harddrive dan produksi massal.
c.       Pemutar media
Pemutar media mulai digunakan sebagai perangkat yang digunakan untuk membuat kumpulan musik digital seperti iPod.
d.      PC tablet
Meskipun PC tablet yang merupakan laptop berbentuk notebook, bukanlah sesuatu yang baru. Kemampuannya yang makin meningkat membuat alat ini tetap layak sebagai kategori inovasi baru.
e.       Bantalan presenter nirkabel
Perangkat inovatif memungkinkan guru untuk mengontrol presentasi digital dari mana saja dalam ruangan. Guru dengan tujuh siswa bisa mendalikan kontrol komputer dengan bantalan presenter nirkabel.

2)      PERANTI LUNAK INOVATIF
a.       Bluetooth
Perangkat keras digital saat ini telah disertai dengan bluetooth, yaitu koneksi antar perangkat keras yang tidak terlihat. Ini dapat menghindari koneksi berkabel yang bisa membuat siswa tersandung dan mengurangi kerapian.
b.      Peranti lunak pengelolaan ruang kelas
Memungkinkan guru untuk mengawasi kegiatan ruang kelas melalui komputer server. Juga bisa merekam seluruh kegiatan siswa pada monitor, mouse dan keyboard di komputer siswa.
c.       Teknologi penulisan bentuk
Teknologi penulisan bentuk dikembangkan untuk membantu para pengguna perangkat pegangan tangan yang bergerak saat memasukkan informasi. Ketimbang menggunakan keyboard untuk mengetikkan tiap huruf, pengguna menggambarkan sebuah garis berkesinambungan melalui huruf dari setiap kata.
d.      Voice over inernet protocol
Memungkinkan pengguna untuk melakukan dan menerima panggilan via internet. Para guru bisa melakukan penggilan dari komputer sekolah ke komputer siswa dan komputer orang tua di rumah
e.       Voice to text
Peranti lunak voice to text mengubah suara lisan menjadi teks. Tetapi karena pelafalan kata sangat berbeda-beda dari sari orang dengan pelafalan orang lain.
f.        Liquid Crystal Display
LCD akan menjadi sangat umum digunakan di komputer dan yang lebih besar akan hadir di ruang kelas dan ruang konferensi. Meski makin bergensi karena kualitas gambar, warna dan sudut penayangan meningkat, namun harga semakin murah.

3)      BUKU ELEKTRONIK
Buku elektronik sama halnya dengan buku tradisional, baik dari segi ukuran dan dan isi. Biasanya membuat cukup memori 75 hingga 80 buku. Dua fitur e book sangat menarik ditinjau dari segi pendidikan. pertama yaitu hypermedia, melalui hypermedia dapat berpindah-pindah dari satu topik ke topik lain. Dan teks juga bisa berisi grafik, audio dan video. Fitur kedua adalah konten dari e book bisa dengan mudah dirubah untuk menyesuaikan kebutuhan pembaca dengan mengunggah buku baru dan menghapus teks yang tidak diinginkan.

J.             Sekolah di Masa Depan
Siswa saat ini merupakan generasi pertama yang tumbuh dalam dunia digital. Ponsel, pemutar DVD portabel, permainan komputer, in­stant messaging, dan iPod merupakan perangkat sehari-hari. Siswa semacam ini dikenal sebagai “digital natives" (Prensky, 2001). Tantangan untuk sekolah di masa depan adalah menciptakan lingkungan pendidikan yang melampaui dan meningkatkan kemampuan "digital natives" ini sembari memperkuat mereka dengan pengetahuan dan kemampuan yang diperlukan yang dibutuhkan untuk sukses dalam masyarakat global. Hasil terlihat positif karena teknologi menjadi lebih bermanfaat, lebih tersedia di mana-mana, lebih "pintar," dan le­bih hebat, dan pada saat yang sama menjadi kurang menakutkan, kurang tampak terlihat, kurang menuntut, dan murah. Kemajuan-kemajuan ini memungkinkan sekolah melakukan peralihan dari lingkungan tradisional ke digital. Perubahan-perubahan itu akan berdampak pada teknologi masa depan yang digunakan oleh guru dan murid, struktur ruang kelas, dan peran guru.
1)        Teknologi P-12 di Masa depan. Inovator saat ini memberikan pandangan mengenai kemajuan teknologi untuk sekolah-sekolah di masa depan. Yang tcrbaru kita bisa menyelenggarakan konferensi video yang menghadirkan para ahli ke dalam ruang kelas. Di masa depan interaksi semacam itu akan ditingkatkan melalui perangkat kolaborasi 3-D sepertif yang dikembangkan oleh Teleportec. Perangkat tersebut memungkinkan pembicara tamu yang ada di tempat yang jauh untuk ditayangkan dalam bentuk berukuran hidup, berbentuk tiga dimensi dan langsung yang bisa berinteraksi dengan dan memperoleh kontak mata dengan mata dengan para siswa yang turut serta dalam konferensi video. Pembicaraan tamu bisa "secara virtual" didudukkan di meja yang sejajar para siswa atau berdiri di depan kelas. Lingkungan virtual memungkinkan sang pem­bicara untuk "melihat" siapa yang mengajukan pertanyaan dan melihat siswa ketika menjawab. Sistem tersebut menampilkan bahasa tubuh dan ekspresi wajah yang mengesankan keaslian pengalaman dan memperkaya belajar.Kemajuan juga bisa dilihat dalam kecanggihan dan penggunaan agen pedagogis, pribadi-pribadi komputer yang digunakan untuk membantu dan menjadi mentor bagi para pemelajar. Salah satu contoh dari agen pedagogis sederhana adalah asisten "Clippit" dalam Microsoft Office yang memantau tindakan pengguna dan memberikan saran. Agen pedagogis yang lebih canggih lagi dilekatkan dalam lingkungan belajar berbasis komputer untuk membantu pemelajar dalam meraih hasil yang di inginkan. Agen tersebut terlihat memiliki ciri-ciri karakter beranimasi yang mengemban empat tugas utama: ahli pengetahuan, motivator pendukung, mentor, atau seseorang yang berpengetahuan dan suportif (BayIor & Kim, 2005).
Contoh-contoh di ruang kelas mengenai agen pedagogis meliputi hal-hal berikut ini:
       Asisten informasi untuk membantu para siswa mengelola informasi.
       Tutor untuk memudahkan belajar.
       Pelatih/mentor untuk mendukung, memandu, dan memperluas pemikiran siswa.
       Perangkat untuk membuat agen pedagogis personal para siswa.
Di masa depan, para agen pedagogis akan mencapai tingkat interaksi yang jauh lebih besar melalui teknologi seperti BlueEyes dari IBM. Agen yang dibuat dengan BlueEyes akan menggunakan teknologi pengindraan untuk mendeteksi keadaan fisik, emosional, atau informasi siswa. Ketika seorang siswa menggunakan peranti lunak pendidikan dengan agen BlueEyes, komputer akan dilengkapi dengan sebuah kamcra yang menangkap ekspresi wajah pembelajar. Agen tersebut akan menggunakan kecerdasan buatan untuk mengubah ekspresi-ekspresi menjadi sebuah reaksi yang diberikan kepada pemelajar Sebagai misal, jika pemelajar tersenyum dan menganggukkan kepalanya setelah menyelesaikan sebuah kegiatan, agen tersebut mungkin memberikan umpan balik yang sama seperti berikut ini, “sepertinya kamu memahami sebuah kata benda. Mari kita beralih bagian selanjutnya dalam percakapan." Atau, jika siswa mengerutkan dahinya dan mengangkatn bahunya, umpan balik sang agen mungkin saja berupa, "kamu kelihatan bingung. Tingkat umpan balik "terpersonalisasi" ini, meskipun diberikan oleh seorang mentor "virtual," akan memungkinkan para pemelajar untuk memaksimalkan pengalaman belajar mereka.

2)        Struktur Ruang Kelas Masa Depan. Ketika memikirkan sekolah di masa depan, adalah mudah untuk membayangkan lingkungan berteknologi tinggi yang nirkertas, nirkabel, dan memiliki koneksi global. Tetapi, seperti yang kita telah lihat dari banyak pengalaman terbaru kita, kita membutuhkan "lebih daripada sekadar meletakkan komputer di ruang kelas. Sekolah-sekolah di masa depan harus menerapkan teknologi secara tepat guna, yangmelengkapi kebiasaan belajar individual dari siswanya". Pemikiran ini dijelaskan dalam"sekolah masa depan," yang membuka pintunya di Philadelphia pada September 2006. Struktur senilai USD 63 juta merupakan hasil usaha gabungan antara Microsoft Corporation dengan Philadelphia School District dan mencerminkan visi Bill Gates untuk menyiapkan siswa di abad ke-21. la dimulai dengan pola pikir yang baru di mana para siswa dianggap sebagai "pembelajar" dan guru merupakan "pendidik". Lingkungan tersebut sepenuhnya digital. Para pemelajar menggunakan kartu pintar untuk absensi untuk mengakses loker, dan untuk menelusuri nilai gizi hidangan makan. Para siswa tidak lagi membawa buku di tas ransel mereka karena e-book telah menggantikan buku perpustakaan di perpustakaan dan bertindak sebagai buku cetak. Para pendidik terus terhubung dengan para siswa, karena keduanya dilengkapi dengan laptop yang selalu bertautan dengan jaringan internet nirkabel. Ruang kelas tidak lagi memiliki batas-batas pasti; dinding bisa digeser dan perabotan bisa diubah-ubah untuk memenuhi kebutuhan belajar siswa yang beragam.Seperti yang kita lihat, sekolah masa depan mungkin makin mengarah ke sekolah online, dan kita sadar bahwa dengan model belajar terbaru ini kita haras sepenuhnya mendapatkan keberuntungan dari lingkungan digital

3)        Peran Guru di Masa Depan. Peran dari seorang guru akan selalu memiliki tanggung jawab mendasar berupa memungkinkan siswa untuk belajar. Tetapi, telah tampak perbedaan sejalan dengan waktu dalam bagaimana guru meraih tujuan tersebut. Peran seorang guru di masa depan akan tetap menghasilkan peningkatan belajar siswa, tetapi guru harus memiliki kemampuan yang lebih luas daripada sekadar pengetahuan konten dan kemampuan pedagogi. Para guru di masa depan harus kompeten di bidang teknologi dan melek informasi.Sebagian besardari guru saat ini memiliki kemampuan melek computer mendasar (Swanson, 2006), tetapi sering kali kurang pemahaman untuk menerapkan kemampuan tersebut secara efektif untuk memadukan teknologi ke dalam pangajaran mereka. Para guru harus melek komputer untuk memperoleh kompetensi teknologi (Morrison & Lowther, 2005). Ini artinya bahwa guru harus mengetahui melek komputer dasar, tetapi yang lebih penting lagi, mengetahui bagaimana dan kapan menggunakan teknologi untuk meningkatkan belajar.Adalah jelas bahwa teknologi akan makin banyak dalam sekolah di masa depan. Oleh karena itu, kompetensi teknologi akan menjadi persyaratan penting bagi guru di masa depan. Sebagai misal, guru harus bisa merencanakan kegiatan ruang kelas yang terus-menerus memadu­kan pengalaman multimedia yang kaya yang secara interaktif melibatkan para siswa dalam belajar yang bermakna.
 
K.           Masa Depan Dalam Bidang Ini
a.       Organisasi profesional dalam teknologi pendidikan
  • AECT (Asosiasi untuk Komunikasi dan Teknologi Pendidikan): organisasi interpersonal yang mewakili professional teknologi pendidikan yang bekerja di sekolah, perguruan tinggi, pemerintahan, dan sebagainya.
  • AACE (Asosiasi untuk kemajuan komputerisasi pendidikan): organisasi professional dan pendidikan internasional yang ditujukan untuk kemajuan pengetahuan, teori, dan kualitas pembelajaran dan pengajaran di seluruh tingkatan dengan teknologi informasi.
  • ALA (Asosiasi perpustakaan Amerika): organisasi perpustakaan terbesar di dunia yang ada di Amerika
  • ISTE (Masyarakat internasional untuk teknologi dalam pendidikan): meningkatkan pendidikan melalui penggunaan teknologi dalam belajar.
  • ITEA (Asosiasi Pendidikan Teknologi internasional): organisasi professional untuk teknologi, inovasi, dan desain
  • IVLA (Asosiasi Melek Visual internasional): ditujukan bagi penelusuran konsep melek visual
  • US-DL (Asosiasi pembelajaran jarak jauh Amerika Serikat): mendorong pengembangan dan penerapan belajar jarak jauh untuk pendidikan dan pelatihan.
b.      Jurnal profesional dalam Teknologi Pendidikan
Seluruh organisasi profesional dalam teknologi pendidikan menerbitkan jurnal peminat bagi para anggota mereka. Berbagai penerbitan berkala lainnya termasuk ke dalam penerbitan khusus bagi para guru yang tertarik dalam penggunaan teknologi dan media. Misalnya media dan metode. Menyoroti peranti keras dan peranti lunak terbaru.Educational Technology membahas baik dari segi guru maupun ahli terknologi pendidikan, yang menyediakan artike dari berbagai topok mulai dari teoritis sampai yang praktis.

BAB III
PENUTUP

3.1. SIMPULAN
            Berdasarkan pembahasan tersebut di atas maka dapat ditarik simpulan sebagai berikut :
1.      Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk pendidikan dapat dilaksanakan dalam berbagai bentuk sesuai dengan fungsinya dalam pendidikan terutama sebagai media pembelajaran.
2.      Berbagai aplikasi teknologi informasi dan komunikasi sudah tersedia dalam masyarakat dan sudah siap menanti untuk digunakan secara optimal untuk kepentingan pendidikansebagai media pembelajaran agar lebih efektif.
3.      Transisi dari lingkungan ruang kelas tradisonal ke ruang kelas digital sangat bervariasi antara guru satu dengan lainnya dan juga antara sekolah dengan sekolah lainnya. Adapun proses yang diadaptasi yaitu mencoba-coba, melakukan hal-hal lama dengan cara yang lama, melakan hal-hal lama dengan cara baru dan melakukan hal-hal baru dengan cara baru.

3.2. SARAN
            Adapun saran yang akan disampaikan berdasarkan pada uraian pada makalah ini adalah:
1.      Perlu adanya kesamaan persepsi diantara guru tentang pentingnya teknologi informasi dan komunikasi dalam mengaplikasikan media pembelajaran terutama di era tren dunia.
2.      Perlu adanya dialog dengan masyarakat sebagai stockholder pendidikan tentang program-program sekolah untuk mendapatkan support dan dukungan dari masyarakat dan untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap keberhasilan program sekolah          terutama sekolah yang berbasis TIK dalam menggunakan media pembelajaran.
3.      Penyelenggaraan pendidikan berbasis TIK melalui pendidikan terbuka dan jarak jauh, membutuhkan dukungan dari semua pihak khususnya, pemerintah, swasta serta masyarakat untuk meningkatkan sumber daya manusia yang mumpuni dalam mengembangkan media pembelajaran yang berkaitan dengan tren globalisasi.


DAFTAR PUSTAKA
 
Munadi, Yudhi. 2013. Media Pembelajaran (Sebuah Pendekatan Baru). Jakarta : Referensi (GP Press Group).
Nasution. 2012. Teknologi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara.
Smaldino, Sharon. Lowter, Deborah. Russel, James D. 2011. Teknologi    Pembelajaran dan Media untuk Belajar. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Sudarsana, I. K. (2014). PENGEMBANGAN MODEL PELATIHAN UPAKARA BERBASIS NILAI PENDIDIKAN AGAMA HINDU UNTUK MENINGKATKAN PERILAKU KEWIRAUSAHAAN: Studi pada Remaja Putus Sekolah di Kelurahan Peguyangan Kota Denpasar.
Sudarsana, I. K. (2015). PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH DALAM UPAYA PEMBANGUNAN SUMBER DAYA MANUSIA. Jurnal Penjaminan Mutu, (Volume 1 Nomor 1 Pebruari 2015), 1-14.
Sudarsana, I. K. (2016). DEVELOPMENT MODEL OF PASRAMAN KILAT LEARNING TO IMPROVE THE SPIRITUAL VALUES OF HINDU YOUTH. Jurnal Ilmiah Peuradeun, 4(2), 217-230.
Sudarsana, I. K. (2016). PEMIKIRAN TOKOH PENDIDIKAN DALAM BUKU LIFELONG LEARNING: POLICIES, PRACTICES, AND PROGRAMS (Perspektif Peningkatan Mutu Pendidikan di Indonesia). Jurnal Penjaminan Mutu, (2016), 44-53.